RUPIAH DAN LIMA PERSEN NASIONALISME

Traveling memang selalu menjadi kegiatan yang menyenangkan, terlebih saat kita mendapat kesempatan untuk menikmati berbagai sajian pemikat mata dari Tuhan. Sebentuk kenikmatan yang hampir tidak pernah diperhitungkan oleh manusia. Meskipun begitu, traveling selalu menyisakan kesan yang tiada habisnya. Pengalaman berpindah dari satu tempat fantastis ke tempat fantastis lainnya sembari berbagi tentang keajaiban yang Tuhan ciptakan … Continue reading RUPIAH DAN LIMA PERSEN NASIONALISME

Advertisements

Traveling: Kesempatan Beribadah, Berinvestasi, dan Belajar ala Kekinian

Warna-warni dalam kehidupan manusia semakin hari terasa semakin beragam. Hadirnya teknologi baru serta munculnya tren baru di tengah-tengah masyarakat seakan menuntut setiap orang untuk menjadi bagian dari tren yang sedang tumbuh tersebut. Salah satunya katakanlah tren swafoto. Membagikan foto diri di tempat-tempat bersejarah, tempat-tempat modern dan berbau glamour, tempat-tempat makan (beserta makanannya), dan hal lainnya. Seiring … Continue reading Traveling: Kesempatan Beribadah, Berinvestasi, dan Belajar ala Kekinian

Apakah Sama?

Untuk apa hidup, jika menyembah yang memberi hidup pun enggan. Lebih baik mati saja. Ah, lupa. Bahkan setelah kematian lagi2 kita dihidupkan. Bahkan kematian pun Allah yang menentukan. Lalu … mau kemana, kawan? Bahkan tulisan ini pun akan dipertanggungjawabkan. Jauh lebih panjang dan lebih lama pertanggungjawabannya, karena kiranya ia dimanfaatkan oleh orang yang belajar sehingga … Continue reading Apakah Sama?

Dimana Para Patriot?

#Catatan_Aktivis Tahun 1905, Jamiatul Khair didirikan. Sebuah lembaga pendidikan yang mengusung ideologi Islam sebagai landasan. Tiga tahun setelahnya, Budi Utomo didirikan dengan tujuan sebagai tandingan dari JK, demi mengekalkan keyakinan yg orang2 BU sebut sebagai Agama Djawa. Pada tahun yang sama dgn JK, tepatnya tanggal 16 Oktober 1905, Sjarikat Dagang Islam pimpinan H. Samanhoedi didirikan … Continue reading Dimana Para Patriot?

Langkah

“Masih sering duduk di sini?” tanyanya mengejutkanku lalu mengambil tempat duduk di sampingku. Seorang laki-laki dengan syal abu dan jaket tebal. Kacamata berframe hitam masih setia bertengger di hidungnya. Aku ingat ketika ia menceritakan tentang kisah kacamata itu dan mengapa ia tak pernah sekalipun lepas dari wajahnya. Aku tak bisa melihat, makanya lebih baik seperti … Continue reading Langkah

Seakan Kita

Ada kalanya kita merasa jemawa, dengan tingginya pangkat dan derajat. Seakan kita istimewa dan diperlakukan spesial, kemudian merasa bahwa diri kita berbeda dari orang lain. Terkadang kita merasa argumen2 kita tak mampu dipatahkan. Lalu kita merasa kebenaran ada di tangan, dan berkata, “Ini pendapatku dan ini benar.” Lalu dengan angkuhnya kita tutup pintu hidayah pada … Continue reading Seakan Kita