Menyimak Ibrahim : Mewariskan Kepemimpinan Sejak Dini

Image result for Prophetic Leadership
Source : Muslim Maters

Kegiatan membina sebuah generasi agar memiliki kualitas yang baik, dengan emosi yang matang, serta memiliki wawasan yang luas memang tidak mudah. Banyak proses yang harus dilalui sehingga generasi itu dapat tumbuh sesuai dengan apa yang dicita-citakan. Tidak jarang peluh, waktu, bahkan kesehatan harus dikorbankan demi membangun generasi yang mampu mengemban amanah kepemimpinan serta mampu membawa masyarakat ke arah yang lebih baik di masa depan. Sampai dengan saat ini, topik mengenai kepemimpinan memang telah menjadi perhatian dari banyak pihak. Sudah banyak pihak yang berusaha untuk menciptakan pemimpin-pemimpin ideal sesuai dengan versinya masing-masing. Namun demikian, rasanya pembinaan-pembinaan yang ada, sampai dengan saat ini, masih berfokus pada bagaimana agar para calon pemimpin memiliki pandangan yang matang tentang kepemimpinan serta agar para calon pemimpin memiliki skill manajemen yang baik. Sedangkan, dalam aspek religiusitas, komponen ini rasanya masih dipandang sebelah mata.

Mengenai kepemimpinan, secara khusus, perhatian Islam mengenai hal ini memang sangat besar. Bahkan, Allah SWT secara khusus—beberapa kali—mencantumkan ayat-ayat yang berkaitan dengan kepemimpinan. Kisah-kisah mengenai kepemimpinan Nabi Daud saat menghadapi Raja Jalut yang lalim, kemudian kisah tentang Nabi Sulaiman yang mewarisi kerajaan milik sang ayah, Nabi Daud as, setelah wafatnya. Kemudian kita kembali dipertemukan dengan kisah Nabi Yusuf yang dibuang oleh saudara-saudaranya, kemudian di masa depan, Nabi Yusuf dikisahkan mendapat posisi penting di kerajaan Mesir saat itu: Bendahara Negeri. Jabatan dengan posisi yang sangat tinggi dan bukan main-main.

Kisah-kisah di atas, di dalam Al-Quran, nyatanya tidak muncul begitu saja. Hadirnya Daud, Sulaiman, Yusuf, bahkan Muhammad SAW memiliki garis kisah yang sangat panjang dan tidak sederhana. Garis kisah ini kemudian memunculkan satu topik baru di dalam dunia kepemimpinan: Prophetic Leadership. Bentuk kepemimpinan era modern yang terinspirasi secara langsung dari kisah-kisah para nabi di dalam Al-Quran maupun dari kisah hidup Nabi Muhammad SAW di dalam sirah nabawiyah.

Jika di dalam pembinaan-pembinaan kepemimpinan lain, proses penggemblengan dilakukan di dalam agenda-agenda khusus seperti LDK (Latihan Dasar Kepemimpinan) dan lain sejenisnya, maka di dalam prophetic leadership, pembinaan kepemimpinan dilakukan setiap saat tanpa berbatas waktu, serta melibatkan kedua belah pihak (pembina dan yang dibina) untuk sama-sama melangkah ke arah yang lebih baik. Konteks ini secara langsung ditekankan di dalam Surah Al-Baqarah (2) ayat ke-124.

 “Dan (ingatlah) ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), lalu Ibrahim menunaikannya. Allah berfirman, ‘Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu Imam bagi seluruh manusia.’ Ibrahim berkata, ‘(Dan saya memohon juga) dari keturunanku.’ Allah berfirman, ‘Janji-Ku (ini) tidak mengenai orang-orang yang dzalim.’”

Pada hari itu, kepemimpinan jatuh kepada Ibrahim. Di tangannya sudah terjamin sebuah janji, jika ia akan menjadi pemimpin bagi seluruh manusia. Kisah ini berlanjut panjang, hingga ribuan tahun kemudian sampai Rasulullah SAW dilahirkan. Kepemimpinan umat dan kenabian—sejak Ibrahim mendapatkan janji—memang tidak pernah terlepas dari keturunan beliau dari garis Nabi Ishaq di Palestina dan Nabi Ismail di Makkah.

Memiliki garis keturunan yang mulia, dengan keturunan yang bertaqwa kepada Allah, memang menjadi sebuah keberkahan tersendiri bagi Ibrahim as. Tak hanya itu, namanya bahkan diabadikan di dalam Al-Quran dan terus dilantunkan oleh banyak manusia di dalam shalat-shalat mereka. Nama Ibrahim selalu muncul beriringan saat shalawat kepada Nabi Muhammad SAW dilantunkan. Namun begitu, memang tidak mudah bagi Ibrahim untuk mendapatkan kemuliaan di sisi Allah seperti itu.

“Dan (ingatlah) ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), lalu Ibrahim menunaikannya. …”

Kemuliaan tidak didapatkan Nabi Ibrahim begitu saja sejak dia dilahirkan, melainkan Nabi Ibrahim dapatkan melalui perjuangan panjang tanpa henti, juga ujian berat yang hadir bertubi-tubi. Al-Quran mengabadikan kisah-kisah besar yang dihadapi Ibrahim kala itu, sebelum ia menyandang gelar Khalilullah (Kekasih Allah). Ujian awal dari kisah besar Ibrahim muncul ketika ia mulai meragukan nilai-nilai yang ada di tengah-tengah kehidupan masyarakat mereka: penyembahan berhala.

Keluarga Ibrahim adalah pembuat patung yang ternama saat itu, bahkan mereka memiliki posisi yang sangat mulia di tengah-tengah kerajaan. Ayahnya, Azar, memiliki keahlian yang mumpuni dalam memahat batu. Saat itu, Ibrahim yang meragukan, kemudian bertanya kepada ayahnya (diabadikan di Surah Al-An’am (6): 74), “Apakah pantas engkau menjadikan berhala-berhala itu sebagai tuhan? Sungguh aku melihat engkau dan kaummu dalam kesesatan yang nyata.”

Begitulah Ibrahim. Ujian pertama yang ditimpakan oleh Allah kepadanya adalah ayah dan keluarganya sendiri. Setelah itu, ia masih harus berhadapan dengan raja di kerajaan saat itu, Namrud namanya, kemudian dibakar hidup-hidup di tengah kota.

Setelah itu, Ibrahim harus diuji kembali dengan tidak memiliki anak selama lebih dari 80 tahun lamanya. Hidup dalam kesendirian bersama istri, di tengah himpitan ujian yang menumpuk, tanpa ada anak yang bisa diharapkan tenaganya untuk membantu mempermudah usaha yang tengah dijalankan. Saat itu, Ibrahim tetap bersabar, sampai kemudian lahirlah Ismail dari istrinya yang bernama Hajar.

Ketika kebahagiaan datang, Ibrahim kembali diuji oleh Allah melalui perintah untuk meninggalkan Hajar dan Ismail kecil di tengah-tengah gurun tandus di daerah Hijaz (Makkah sekarang), sendirian, tanpa ada satu pun manusia di sana. Ujian terus hadir dan datang secara bertubi-tubi dan menguras tenaga, tapi di saat yang sama, Ibrahim tetap bersabar dan berdiri di atas pendiriannya. Ibrahim saat itu memegang kunci kemuliaan pertama. Melaksanakan perintah Allah tanpa mengurangi atau mengeluh sedikit pun. Ibrahim menerima seluruh ujian dan melaksanakan seluruh perintah dengan semangat tanpa pernah mengucapkan kata ‘tapi’ dari lisannya.

Dari sikapnya ini, Allah kemudian memuliakan Ibrahim dan menjadikannya Imam bagi seluruh manusia.

“ … Allah berfirman, ‘Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu Imam bagi seluruh manusia.’ …”

Kepemimpinan saat itu menjadi hadiah bagi Ibrahim atas ketaatan yang selama ini diberikannya kepada Allah SWT. Kepemimpinan yang diberikan oleh Allah, bahkan, tidak hanya berada pada ruang lingkup satu wilayah saja seperti yang umum kita pahami dalam konteks kepemimpinan saat ini, melainkan meliputi seluruh manusia yang ada, tanpa terbatasi ruang dan waktu. Faktanya, apa yang pernah Ibrahim bawa semasa hidup masih kita lakukan sampai dengan saat ini. Tak kurang risalah haji, mengelilingi baitullah, menyembelih hewan kurban, perawatan ka’bah, risalah sunat bagi laki-laki, bahkan nabi-nabi yang kita kenal sampai dengan saat ini—termasuk Nabi Muhammad SAW—merupakan keturunan beliau.

Allah berikan kepemimpinan itu kepada Ibrahim.

Di ayat ini, kita menemukan sebuah kemesraan antara Ibrahim dengan Tuhannya. Ibrahim kemudian meminta:

“… Ibrahim berkata, (Dan aku juga memohon) dari keturunanku.’ … ”

Kali itu, Ibrahim tetap meminta agar keturunannya diselamatkan dan diberi anugerah yang serupa seperti dirinya. Dalam konteks kepemimpinan, keberlangsungan estafet kepemimpinan memang penting untuk terus ada, agar nilai-nilai yang sempat tertanam dapat terus terjaga. Anak-anak dan pemuda merupakan aset yang luar biasa besar, dan tentu kita selaku kaum muslimin memiliki harapan agar anak-anak yang lahir dari diri kita dapat menjadi sosok-sosok besar dan bermanfaat bagi sesama.

Tentang permintaan Ibrahim ini, Allah kemudian menjawab:

“… Allah berfirman, ‘Janji-Ku (ini) tidak mengenai orang-orang yang dzalim.’ …”

Ibrahim saat itu mendapatkan jaminan terkabulnya doa dan keturunannya akan menjadi orang-orang mulia, namun dengan satu syarat: orang-orang tersebut tidak boleh berbuat dzalim. Kepemimpinan akan tetap dianugerahkan kepada mereka selama mereka tetap taat kepada Allah dan tidak melakukan sesuatu yang menyimpang dari aturan-aturan Allah.

Dalam konteks kepemimpinan di era modern saat ini, dari kisah Ibrahim di atas, kita bisa menarik beberapa kesimpulan, antara lain:

Pertama

Ketaatan kepada Allah merupakan titik poin yang paling penting dalam membentuk pemimpin-pemimpin baru di masa depan. Religiusitas pemimpin nyatanya akan berdampak pada bagaimana ia memimpin di masa mendatang. Kedekatan seorang pemimpin kepada Tuhannya akan mendorong ia untuk tetap bersabar dan bersikap tegar saat menghadapi berbagai masalah yang datang bertubi-tubi, baik yang bersifat ringan maupun berat.

Kedua

 Kepemimpinan merupakan anugerah dari Tuhan yang diberikan kepada siapa saja yang Dia pilih, meskipun tetap saja ada usaha yang harus dikuatkan di sana.

Ketiga

Ada doa yang harus dipanjatkan selama proses pembinaan calon-calon pemimpin di masa mendatang, agar Allah kembali mengaruniakan rahmat-Nya kepada si penerus. Dengan kata lain, berhasil atau tidaknya proses pembinaan untuk mencetak para pemimpin baru, tidak hanya ditentukan oleh sebagus apa sistem yang diterapkan serta sekomprehensif apa kurikulum pembinaan yang diterapkan. Ada peran Allah di dalam sana—yang sudah seharusnya kita sebagai manusia—meminta kepada Allah untuk ‘terlibat’ di dalam proses pembentukan generasi pemimpin baru ini.

Keempat

Kepemimpinan yang benar, serta rahmat Allah yang melimpah akan hilang seketika apabila para pemimpin mulai melakukan kedzaliman. Estafet kepemimpinan juga akan runtuh saat kedzaliman marak dilakukan oleh generasi muda yang seharusnya menjadi pemangku estafet kepemimpinan di masa mendatang.

Artinya, perlu ada kolaborasi nyata antara para pemimpin/pembina dengan para peserta/orang yang dibina untuk tetap saling mengingatkan dan melangkah bersama-sama agar tetap berada pada jalan ketaatan kepada Allah SWT.

Seorang pemimpin adalah orang yang melihat lebih dari yang orang lain lihat, yang melihat lebih jauh daripada yang orang lain lihat, dan yang melihat sebelum orang lain melihat.
(Leroy Eimes, penulis dan pakar kepemimpinan)

 

Selesai ditulis di :
Bogor, 03 Maret 2018
Asrama Rumah Kepemimpinan
Regional 5 Bogor

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s