DILAN, FAHRI, DAN PEMUDA INDONESIA

Jagat hiburan Indonesia kembali dihebohkan dengan kehadiran idola baru di kalangan generasi muda. Dilan, namanya. Tokoh ini hadir dengan berbagai kata romantis yang ia ucapkan di sepanjang cerita. Kehadiran Dilan memang sudah ditunggu-tunggu sejak kemunculannya di dalam novel sebagai tokoh protagonis yang berusaha menaklukkan hati seorang perempuan. Kehadiran Dilan memang telah memberikan satu warna baru di jagat pertokohan Indonesia. Tokoh yang dipuja karena sifat romantisnya, sifat nekat yang dimiliki, ditambah aksinya selama menjalani kehidupan sekolah.

Image result for dilan
idntimes

Berangkat dari sosok Dilan, kita beranjak ke sosok kedua dengan nama Fahri, tokoh utama di dalam novel dan film Ayat-Ayat Cinta. Sedikit berbeda dari karakter yang Dilan miliki, Fahri digambarkan sebagai tokoh antagonis dengan perwatakan yang sempurna. Ia memiliki amarah yang terukur namun tak pernah tersalur dalam bentuk kekerasan. Pandangan agama yang ia miliki amat menyeluruh, dan di beberapa bagian cerita, penyampaian yang ia berikan bahkan mampu diterima oleh semua orang, meski berbeda keyakinan sekalipun.

Di masa-masa kehadirannya, sama seperti Dilan, Fahri berhasil menggaet hati banyak remaja di Indonesia. Fahri seketika menjadi idola. Sosok yang dielu-elukan karena berkumpulnya segala kesempurnaan yang bisa dimiliki oleh seorang laki-laki: kesalihan, kekayaan, ketampanan, keluasan pandangan, kesantunan, dan banyak hal lain.

Fahri hadir bertahun-tahun lebih awal daripada Dilan. Sosok veteran ini kemudian harus bertemu di dalam panggung pementasan yang berjarak tidak terlalu lama. Meski demikian, rasanya Fahri harus mengalah pada Dilan hari ini. Eksistensinya tidak terlalu mampu membekas di dalam benak pada generasi muda. Kedua tokoh ini dihadapkan pada preferensi penonton: mana kira-kira yang lebih menarik hati dan lebih seru untuk dijadikan bahan pembicaraan. Pada akhirnya pilihan tersebut jatuh kepada Dilan.

“Jangan mengingatku. Berat. Kamu tak akan kuat,” mungkin begitu kata Fahri, andai dia memang sosok yang memiliki perasaan dan benar-benar hidup. “Lebih baik aku menghilang saja.”

Persaingan pengaruh lewat tokoh fiktif

Image result for ideology
investigatemedia

Persaingan pengaruh antara tokoh-tokoh fiktif dari dunia kepenulisan dan sastra di dalam benak para pembacanya memang bukan lagi hal yang baru. Jika diingat kembali beberapa tahun ke belakang, sosok-sosok seperti BJ Habibie yang hadir di film biografi tentang dirinya, juga tokoh yang membelah langit Amerika di film yang berdasar buku karya Hanum Rais, atau tokoh-tokoh lain seperti Soe Hok Gie di dalam film dan buku Catatan Seorang Demonstran, dan lain sebagainya memang telah saling berbagi pengaruh di dalam benak generasi muda saat ini.

Penanaman ideologi melalui film memang bukan lagi sebuah topik omong kosong. Para penikmat baik itu pembaca atau penonton disuguhi karya-karya emas dengan warna yang berbeda, kemudian dihadapkan pada pemikiran yang dimiliki oleh para penulis karya itu. Mereka pada akhirnya dibiarkan untuk memilih nilai mana yang akan diserap—meski sebenarnya tidak benar-benar ada kesempatan untuk memilih.

Pengaruh tulisan bagi para pembacanya memang bukan sekedar kisah fiktif yang bisa dilewatkan begitu saja. Jejeran karya seperti Das Kapital, Mein Kampf, juga deretan buku-buku klasik lain pada faktanya telah berhasil menginspirasi banyak orang untuk mengikuti para penulisnya dan mewarisi pemikiran mereka. Beberapa buku bahkan telah membawa perubahan pada tatanan dunia, seperti novel Uncle Tom’s Cabin yang terbit di pertengahan abad ke-19. Kehadiran buku ini memberikan dampak yang tidak main-main: revolusi kulit hitam untuk menentang kultur perbudakan di Amerika.

Cerita yang sama namun dengan dampak yang jauh lebih besar berhasil diukirkan oleh Muhammad Rasulullah dalam mengubah tatanan kehidupan masyarakat dunia sampai dengan saat ini. Muhammad SAW, dengan Alquran yang menjadi mukjizat terbesarnya, telah berhasil merestorasi tantanan kehidupan manusia baik dalam aspek moral maupun struktural di banyak tempat. Apa yang tertulis di dalam Alquran dan disampaikan secara langsung dari lisan beliau berdampak pada penghapusan tindakan perbudakan di kalangan kaum muslimin sampai dengan saat ini, menanamkan landasan kegiatan ekonomi islam, tata aturan peperangan yang beradab, pola interaksi dan tata krama antar sesama manusia, tata aturan kehidupan bertetangga, kegiatan politik, dan lain sebagainya. Apa yang tertulis di Alquran dan ucapan sang Nabi yang kemudian dicatat dalam buku-buku hadits telah memberikan perubahan yang besar dalam segala aspek kehidupan khususnya bagi masyarakat muslim: dari yang terkecil hingga yang terbesar.

Maka, wajar saja apabila pengarus tulisan, baik sastra maupun nonsastra, kemudian dijadikan sebagai indikator dari kondisi suatu bangsa. Karya-karya yang dihasilkan di dalam suatu negara sebenarnya dapat memperlihatkan bagaimana kondisi sebenarnya dari masyarakat di negara tersebut. Hal ini tidak terlepas dari proses kreatif para penulis yang sebenarnya menyerap kondisi lingkungan di sekitarnya. Jangankan untuk urusan konflik atau topik yang diangkat di dalam karya—seperti cekcok antar tetangga, pertentangan mengenai poligami, dan lain sebagainya—, untuk urusan nama saja, para penulis cenderung menggunakan nama yang pernah didengarnya secara langsung dari lingkungan tempat ia tinggal atau nama yang umum terdengar di telinganya.

Jika pembaca pernah membaca novel maupun menonton film Surga yang Tak Dirindukan karya Asma Nadia, pembaca akan disuguhkan pada satu fenomena yang mungkin akan kita tentang bersama. Poligami. Di dalam karyanya, dengan jelas Asma Nadia mengangkat pertentangan batin di dalam diri perempuan—khususnya orang Indonesia—dalam menghadapi fenomena ini.

Meski begitu, di tengah-tengah masyarakat di luar sana, fenomena ini mungkin saja mendapat tanggapan yang berbeda. Poligami bisa jadi diterima dengan sangat terbuka, dilakukan oleh sebagian besar laki-laki di sana, dan menjadi konten umum di dalam sastra-sastra mereka. Tidak sampai di situ, pada karya-karya sastra di Jepang atau di Barat, jangankan poligami, mungkin saja pernikahan tidak menjadi topik yang sering diangkat di dalam karya-karya mereka. Pernikahan bisa jadi diletakkan di akhir kisah hidup dua sejoli yang telah lama tinggal bersama. Pada akhirnya, kondisi kesusastraan di suatu negara akan benar-benar memunculkan sisi-sisi sebenarnya dari kehidupan masyarakat di sana.

Hal senada bisa kita temukan di Indonesia hari ini. Kondisi generasi muda yang kita miliki, tentu dapat dengan mudah kita lihat dari jenis buku apa yang paling laris dibeli, film bioskop apa yang paling laris ditonton, atau sinetron jenis apa yang paling banyak digandrungi.

Nasib masyarakat negeri ini di masa mendatang ditentukan oleh sekuat apa pena-pena para pemikir dan penulis muda—entah di bidang sastra maupun non-sastra—dalam mengukirkan narasi masa depan. Kehadiran Fahri telah berhasil menunjukkan betapa besar harapan dan mimpi yang sebenarnya ada di dalam diri sebagian dari generasi muda bangsa Indonesia. Harapan yang sejatinya ingin untuk diraih, namun masih terlalu jauh panggang daripada arang. Sedangkan kehadiran Dilan telah berhasil menyingkap wajah sesungguhnya dari kondisi generasi muda bangsa ini, yang tentu masih gandrung pada nuansa romantisme percintaan, kebebasan berekspresi, dan belum mencoba untuk memikirkan gagasan di masa depan.

Pada akhirnya, setiap karya memiliki wajah dan kesempurnaannya masing-masing. Tidak ada karya yang buruk. Semuanya baik. Hanya saja, preferensi pembacalah yang membedakannya.

 

Bogor, 2018.0502

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s