CODEX MAGICA: DUNIA DALAM BALUTAN KONSPIRASI (RESENSI)

Image result for codex magica
Sumber : Tokopedia

‘Menyoal konspirasi’. Seperti inilah salah satu tema ringan yang cukup sering saya perbincangkan sewaktu masih berstatus aktif di lembaga dakwah kampus. Konspirasi memang pada dasarnya serupa penyedap dalam makanan. Tanpa itu, kegurihan dari santapan tidak bisa dirasakan, atau minimal nafsu makan tidak se-‘menggelora’ saat penyedap rasa ditambahkan.

Konspirasi memang terasa sudah masuk ke dalam sendi-sendi pemikiran masyarakat Indonesia secara umum. Terlihat bagaimana teori-teori itu bersliweran dengan mudahnya di media sosial, dan tentu ‘mampu’ menarik animo masyarakat untuk menyepakati apa yang dikeluarkan. Bahkan dari teori konspirasi yang ada, tren ‘merasa bangga’ untuk menjadi berbeda mulai muncul. Tercermin dari bagaimana aktifnya perdebatan antara flat-earthian dan globe-earthian (ini mah istilah saya saja). Namun pada intinya, ini memang bahasan yang tidak bisa dipungkiri ‘cita rasanya’. Manis, sedap, menantang, dan mampu mengukur seberapa cerdas kita dalam menyikapi sesuatu. 😊

Berbicara tentang konspirasi, rasanya hal ini tidak bisa dilepaskan dari pembahasan tentang Freemasonry. Sebuah pergerakan global yang mengusung paham Illuminati (pencerahan/tercerahkan) dan menganggap dirinya sebagai segolongan manusia terbaik yang telah mendapatkan pencerahan. Pembahasan tentang freemasonry memang tidak jarang menjadi melebar dan membuat takjub. Pergerakan ini tercatat memiliki anggota yang tersebar di seluruh negara di dunia, dengan struktur yang jelas dan tingkatan-tingkatan yang luar biasa ketat. Uniknya lagi, setiap anggota dari kelompok ini memiliki komitmen yang sangat kuat untuk menjaga rahasia (dan siap mati jika melanggar, tentunya).

Judul buku   : Codex Magica–Secret Signs, Mysterious, and Hidden Codes of the Illuminati
Penulis          : Texe Marrs
Tahun terbit : 2005
Penerbit        : RiverCrest Publishing
Jumlah Hal   : 624
ISBN               : 978-602-1258-78-1
Rating            : 2.0 (dari 5.0) – it was ok to read

 

Texe Marrs dan Freemasonry

Wikipedia menjelaskan kalau freemasonry sebetulnya berupa organisasi yang tertutup dan ketat, khususnya dalam proses penerimaan anggota baru. Bahkan dikatakan kalau freemasonry sebetulnya merupakan organisasi ‘agama’ tanpa berdasarkan pada keyakinan agama manapun. Singkat kata, freemasonry sebetulnya bisa saja dikategorikan sebagai sebuah agama modern yang terpisah dari agama-agama sebelumnya, sebab dari pernyataan di atas, kita bisa menarik kesimpulan bahwa ‘mereka’ memiliki ajarannya sendiri. Menarik, namun tentu berbahaya.

Texe Marrs, penulis buku ini, mengawali cerita panjangnya dengan memaparkan apa sebenarnya organisasi bernama freemason ini. Tentang New World Order, pandangan mereka terhadap dunia dan orang lain, penentangan-penentangan mereka terhadap agama (khususnya kristen), dan banyak lagi. Pada bagian awal buku ini, pembaca sebetulnya sudah mampu untuk menarik beberapa kesimpulan, di antaranya, buku ini bisa saja dikategorikan sebagai buku religi dengan nuansa kekristenan yang kental. Kemudian pembaca juga bisa menyimpulkan jika ada ‘hubungan yang tidak baik’ antara kristen dengan freemasonry, sama sekali. Lalu yang ketiga, pembaca akan dihadapkan pada pemikiran religius dari Texe Marrs yang mencoba untuk menyelamatkan agama dan pembacanya. Pun sama seperti buku-buku lain yang saya baca, buku ini –meski belum tentu saya favoritkan— menawarkan cara pandang baru dalam melihat sebuah fenomena.

Dari susunan buku ini, Codex Magica bisa disebut sebagai buku dengan riset yang cukup panjang. Texe Marrs terkesan tidak ragu untuk mencantumkan berbagai informasi yang ‘dianggap mampu’ untuk meyakinkan pembaca. Dengan riset seperti ini, menurut saya, Codex Magica merupakan sebuah buku dengan proses penulisan yang berkualitas, sehingga wajar saja jika buku ini dianugerahi predikat International Best Seller.

 

Mereka yang berada di dalam Pusaran Konspirasi

Istilah No Picture = HOAX rasanya sangat cocok jika disematkan ke dalam buku ini. Hampir di setiap halamannya, Texe Marrs tidak bosan untuk mencantumkan gambar-gambar yang mendukung argumennya, seperti foto-foto para tokoh dunia, termasuk di dalamnya Helen Keller dan Nelson Mandela. Belum lagi tokoh-tokoh lain seperti Napoleon Bonaparte, Yasser Arafat, Paus Yohanes Paulus II, termasuk Mahmud Abbas tidak luput dari sasaran jepretan. Mereka dianggap termasuk di dalam bagian konspirator dunia, dan dibuktikan dengan foto-foto sewaktu mereka memunculkan simbol-simbol illuminati melalui gerakan tubuhnya ataupun tanda yang ditunjukkan dengan tangannya. Tentu hal ini menjadi sebuah pernyataan yang cukup kontroversial, mengingat ‘betapa seriusnya’ status dari pernyataan ini.

Di beberapa bagian berikutnya, saya dibuat tertegun. Texe Marrs mencantumkan foto Khalid Mishal (pemimpin Hamas sebelum Ismail Haniyya) sebagai bagian dari kelompok ini. Terlihat dari ‘bagaimana’ Khalid Mishal berjabat tangan dengan tokoh politik arab lainnya. Texe Marrs juga mencantumkan beberapa foto demonstrasi muslimin di Pakistan, ketika banyak sekali orang mengacungkan tangan atau mengangkat kedua tangan ke udara. Texe Marrs—jika tidak salah ingat—menuliskan, “ada banyak sekali simbol tangan di dalam gambar ini”. Sebuah argumen yang berhasil membuat saya mengerenyitkan dahi, dan menarik kesimpulan jika Islam menjadi salah satu pihak ‘tertuduh’ yang bermain di dalam konspirasi global ini.

Image result for helen keller in codex magica
Helen Keller dan simbol tangan
Image result for nelson mandela in codex magica
Nelson Mandela dan jabat tangan illuminati

Dari aspek bahasa—berhubung saya baca versi terjemahan—, buku ini terkesan cukup berat dan berhasil mendorong saya untuk lebih terfokus pada gambar-gambar yang ditampilkan daripada tulisan yang disajikan, meski bukan berarti saya hanya melihat gambarnya saja dari buku ini.

Sebagai penutup, saya memandang buku ini sebenarnya cukup menarik untuk dibaca, terlebih bagi mereka yang menyenangi atau ingin tahu tentang konspirasi dunia global. Di samping itu, pembaca perlu untuk tetap mempertahankan rasionalitas dan tetap berpikir kritis saat menyimak setiap konten di dalam buku ini.

Selamat Membaca. 😊

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s