Berpikir Berbeda: Apa Salahnya?

(Resensi Buku: Whatever You Think, Think The Opposite)

Buku ini unik. Itu hal pertama yang terbersit dalam benak saya setelah melihat sampul buku ini. Pada dasarnya, sampul dari buku ini tergolong sangat sederhana dengan gaya mentereng ala buku-buku terbitan Penguin Books.Ltd yang pernah saya baca sejauh ini. Sampul buku ini didominasi oleh tulisan dengan warna hitam dan merah, kontras di atas background berwarna putih terang. Tapi di samping itu semua, kalimat Whatever You Think, Think the Opposite terasa jauh lebih menarik bagi saya. Buku ini terkesan menantang orang-orang yang memiliki paradigma berpikir ‘normal’ atau ‘terstruktur’ di luar sana untuk beradu argumentasi secara terang-terangan.

Selain konsep sampul yang bagi saya terasa sangat menarik, buku besutan Paul Arden ini juga menawarkan sesuatu yang sangat menarik: perubahan paradigma berpikir tentang suatu masalah. Sebagai seorang pemuda yang masih sibuk dengan permasalahan-permasalahan organisasi juga persiapan pasca kampus, buku ini seakan menawarkan sesuatu yang memang saya sangat butuhkan. Pada intinya, buku ini berhasil membangun eskpektasi di dalam diri saya tentang apa yang akan saya dapatkan setelah membacanya.

Image result for whatever you think - paul arden - pinterest
Sumber : Pinterest

Judul Buku          : Whatever You Think, Think The Opposite
Penulis                 : Paul Arden
Penerbit               : Penguin Books, Ltd. (USA)
Alih Bahasa         : Kompas Gramedia
Tahun Terbit       : 2006
Tebal Halaman   : 144 halaman
Rating                   : 4.0 dari 5.0 (Really Liked It)

Berpikirlah Berbeda

Tak ada salahnya menjadi sosok yang berbeda, sebab bisa jadi perbedaan itu akan membawa kita pada satu hal baru yang luar biasa. Kira-kira itulah yang saya berhasil dapatkan setelah membaca keseluruhan halaman dari buku ini. Bahasa yang ringan, juga ilustrasi yang sangat membantu, membuat saya—yang notabene ‘agak malas’ untuk membaca buku-buku berbau ‘motivasi’—mampu menyelesaikan buku ini hanya dalam waktu tiga jam saja (empat jam jika ditambah dengan menyalin kalimat-kalimat menarik dari dalam buku ini, dan empat setengah jam setelah ditambahi dengan merancang konsep tulisan untuk review ini).

Di halaman awal buku ini, Arden membubuhkan sebuah gambar pelompat tinggi yang tengah berada di udara. Arden menceritakan jika foto di halaman awal itu adalah pelompat tinggi pertama di dunia yang melakukan lompatan dengan memunggungi mistar, berbeda dari pelompat tinggi pada umumnya di masa itu. Sebuah gebrakan baru yang berhasil mencatatkan namanya di dalam sejarah dunia olahraga dunia.

Buku ini secara khusus memang menyoroti berbagai perspektif umum yang dimiliki seorang manusia dalam kondisi normal, seperti ketakutan untuk melakukan sesuatu yang berbeda, tentang kesedihan yang seringkali menghambat seseorang untuk melangkah maju, kekhawatiran akan kegagalan, juga hal-hal lain yang sejenis yang berpengaruh pada monotonnya kehidupan kita. Lebih jauh lagi Arden menuliskan, “Masalahnya justru bukan karena kita keliru dalam mengambil keputusan, melainkan karena kita mengambil keputusan yang benar. Kita selalu membuat keputusan berdasarkan data dan fakta yang ada di sekitar. Tapi masalahnya, setiap orang juga melakukan hal yang sama seperti kita!” Artinya selama kita melakukan sesuatu sesuai dengan paradigma berpikir umum, maka lompatan-lompatan yang kita lakukan hanya standar-standar saja. Tak ada istimewanya, dan hidup akan terus berjalan ala kadarnya.

Untuk menambah kesan bagi pembaca, tulisan tadi Arden kombinasikan dengan sebuah ilustrasi mirip seorang narapidana dengan kaus loreng-loreng tanpa borgol sama sekali. Ia seakan tengah dipenjara di dalam labirin kaca yang ukurannya hanya setinggi kepala, tanpa atap sama sekali. Si narapidana Arden gambarkan seakan tengah berada pada kondisi kebingungan, dan saya rasa ini cukup wajar. Andaikata kita terjebak di tengah-tengah labirin kaca (bukan cermin), ini tentu rasanya tidak nyaman. Pertama, kita tidak bisa melihat di mana ujung dari labirin ini, padahal kita bisa melihat apa yang ada di sebalik dindingnya. Kedua, tempat itu tentu membingungkan, sebab semua bagian terasa sama saja tanpa perbedaan.

Bagi orang normal saat melewati labirin, mereka akan mengikuti jalur yang sudah disediakan oleh ‘si pembuat labirin’. Tapi bagi orang yang memiliki paradigma berbeda, mungkin saja ada banyak jalan yang bisa dipilih untuk keluar dari dalam labirin. Entah dengan cara memanjat ke atapnya, atau mencoba untuk meninggalkan jejak di setiap tikungan. Bagi saya, ilustrasi yang dibubuhkan oleh Arden di dalam halaman ini sangat menarik—karena banyaknya kemungkinan yang bisa dipilih—, dan nyatanya memang ini menjadi salah satu ilustrasi paling menarik bagi saya pribadi.

Arden juga menuliskan, “Lebih baik kita menyesali apa yang pernah kita lakukan, dan bukan pada apa yang belum kita lakukan.”

Menyesali sesuatu yang tidak sempat dilakukan memang menjadi permasalahan umum yang kita hadapi, dan pada faktanya, permasalahan ini tidak jarang mengganggu performa kita dalam menjalani kehidupan atau sewaktu melakukan sesuatu. Merenungi masa lalu memang menjadi hal penting yang harus dilakukan setiap orang, namun bukan berarti seseorang ‘diperbolehkan’ untuk tenggelam di dalam masa lalunya. Ya, keduanya memang hanya menyisakan hal buruk. Entah menjadikan seseorang itu tenggelam di dalam kemuliaan semu, atau tersesat dalam penyesalan tak berujung.

Dari kalimat ini, Arden seakan ingin menyampaikan kalau mengambil pelajaran dari masa lalu sama pentingnya dengan merencanakan masa depan. Masa lalu bisa diambil sebagai pelajaran, untuk menghindari kesalahan serupa di masa mendatang. Konsep ini menjadi salah satu konsep yang saya kagumi, terlebih hal ini senada dengan apa yang saya temukan di dalam al-Quran: dominasi kisah-kisah umat terdahulu dan diikuti pesan dari Allah dengan kalimat ‘agar kamu ingat’, atau ‘agar kamu berpikir’.

Di akhir bagian ini, Arden menuliskan, “Sudut pandang tidak ada yang benar. Semua itu hanyalah sudut pandang pribadi.” Artinya hidup kita adalah milik kita pribadi, sedangkan pendapat orang lain bukanlah sesuatu yang wajib kita ikuti. Kitalah orang yang bertanggungjawab atas apa yang kita lakukan, bukan orang lain.

 

Ilustrasi yang menggugah

Image result for whatever you think - paul arden - illustration
Sumber : Nubby Twiglet

Seperti yang sudah saya sebutkan di atas, ilustrasi menjadi salah satu kelebihan tersendiri dari buku ini. Di satu halaman, pembaca disuguhi dengan foto-foto yang

sangat menarik (seperti foto bunga layu, atau bunga tanpa kelopak, dan lain sejenisnya). Di

halaman lain, pembaca akan disuguhi dengan gambar abstrak seperti labirin kaca di atas. Namun di halaman lainnya, pembaca tidak akan mendapatkan apa-apa kecuali hanya satu baris tulisan saja. Artinya halaman itu kosong tanpa ilustrasi apapun. Meskipun begitu, setiap halaman menyimpan maksudnya masing-masing. Ilustrasi digambarkan tidak hanya sebagai ‘pendukung’ dari apa yang dituliskan oleh Arden, melainkan sebenarnya ilustrasi itu adalah bagian dari pemikiran yang ingin Arden sampaikan kepada para pembaca dari bukunya.

Bagi saya, buku ini tidak hanya menyajikan sebuah bahan bacaan yang menarik, melainkan juga terasa seperti kanvas seni yang menarik untuk dinikmati.

Di antara berbagai kelebihan tersebut, pembaca agaknya perlu sedikit bersabar di beberapa bagian. Beberapa ilustrasi yang digunakan rasanya ‘cukup menyakitkan’ saat dilihat. Seperti di salah satu halaman, Arden memenuhi seluruh halaman dengan warna merah lalu menuliskan beberapa kalimat kecil di atasnya dengan warna hitam. Dengan struktur seperti ini, tulisan memang terasa cukup sulit untuk dibaca. Tapi untungnya Arden tidak menggunakan font dengan warna putih, sehingga bagian ini cukup terselamatkan.

Di beberapa bagian ilustrasi, sebagian pembaca mungkin juga akan merasa tidak nyaman. Pada beberapa bagian ilustrasi, pembaca akan disuguhkan dengan beberapa hal yang tentunya cukup ‘asing’ bagi masyarakat dengan nilai-nilai ketimuran seperti kita. Seperti contoh, penggunaan ilustrasi pria yang tidak menggunakan busana, meskipun bagian sensitif dari pria tersebut tidak diperlihatkan (dan untungnya di buku versi bahasa Indonesia, sensor yang dilakukan lebih ketat). Meskipun begitu, perspektif dari ilustrasi-ilustrasi ini memang sepenuhnya mengutamakan unsur seni di dalamnya, sehingga kita tidak akan dipertemukan dengan konten-konten ‘jorok’ dan ‘tidak mendidik’.

Kesimpulannya, yah menurut saya, buku ini memang sangat cocok bagi mereka yang ingin mencoba untuk menambah paradigma berpikir yang dimiliki. Buku ini rasanya cukup layak untuk dijadikan referensi bacaan, khususnya bagi para aktivis yang tengah ingin membawa suasana baru ataupun tengah mencoba untuk memperbaiki kondisi internal di dalam organisasinya.

Buku Whatever You Think, Think the Opposite ini merupakan satu di antara puluhan buku lain yang ditulis oleh Paul Arden dan diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa. Selain itu, predikat Internasional Best Seller yang dimilikinya mampu menjadi indikator untuk menggambarkan kualitas dari buku ini.

Selamat Membaca.

Yang terpenting bukanlah dari mana kita mengambil hal-hal itu,

Akan tetapi ke manakah kita akan membawanya

~ JIM JARMUSCH ~

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s