Altitude 3676 Takhta Mahameru: Karya Eksotik tentang Pencarian Kebenaran

Pertemuan selalu mampu menjadi penambah cita rasa dalam setiap segmen kehidupan. Tidak jarang pertemuan yang terjadi juga setiap peristiwa yang dialami mampu memberikan arti tersendiri dalam hidup kita. Bahkan tentang pertemuan sambil lalu sekalipun tidak jarang menyimpan pelajaran berharga yang belum tentu didapatkan di momen berikutnya. Setidaknya itulah yang tergambar di benak saya setelah membaca novel karya Azzura Dayana yang satu ini. Rekan satu almamater di Forum Lingkar Pena, meski berbeda label akhirnya: Saya di Bogor, Si Penulis satu ini di Palembang, Sumatera Selatan.

Tentang novel setebal 416 halaman ini, saya merasa harus sependapat dengan apa yang ditulis oleh Mbak Riawany Elyta tentang buku ini di tahun 2014 lalu. Altitude 3676 memang menyisakan kesan yang sangat mendalam dan mendorong saya untuk kembali melakukan kebiasaan lama: traveling. Berlatarkan berbagai relik indah di dalam negeri, juga konflik yang begitu padu dan rapat, menjadikan novel ini sebagai novel yang memang benar-benar layak untuk mendapatkan penghargaan sebagai novel terbaik di IBF pada tahun 2014. Novel yang bukan sekedar omong kosong, baik isinya maupun pengaruhnya terhadap pembaca.

Related image

Judul                     : Altitude 3676-Takhta Mahameru
Penerbit              : Indiva Media Kreasi
Penulis                 : Azzura Dayana
ISBN                      : 978-602-8277-92-1
Tebal                     : 416 hal
Jenis                      : Fiksi
Terbit                    : Juli 2013
Harga                    : Rp. 59.000,-
Rating                   : 4.80 (dari 5.00)

Sebuah Perjalanan Panjang bernama ‘Pencarian’

Berawal dari pencarian Faras terhadap Raja Ikhsan, seorang laki-laki yang tak sengaja berpapasan dengannya tiga tahun lalu di Desa Ranu Pane, Ia dan Mareta bertemu di Pelataran Candi Borobudur. Seorang perempuan yang senang melakukan traveling dan saat itu tengah kabur dari rumah. Mareta digambarkan sebagai tokoh yang cuek, peduli pada dirinya sendiri, dan tempramental. Sedangkan sosok Faras digambarkan sebagai perempuan cantik yang lembut, memiliki wawasan yang luas, tenang, dan mudah akrab dengan orang lain. Kedua tokoh ini kemudian ditakdirkan untuk melakukan perjalanan bersama ke Makassar.

Inilah sajian pertama yang disuguhkan kepada pembaca oleh Yana (sapaan akrab dari Azzura Dayana). Sebuah mozaik yang rasanya tidak padu, warnanya terlalu acak, dan dipaksakan untuk tetap dibiarkan bersama. Itulah gambaran pertama yang saya dapatkan dari awal novel ini, meskipun pada akhirnya saya kembali dibuat takjub dengan bagaimana ‘mulusnya’ perjalanan mereka berdua di tanah Sulawesi itu. Kehadiran Faras dalam hidup Mareta berhasil membawa perubahan secara perlahan pada diri Mareta, sedangkan kehadiran Mareta dalam hidup Faras menumbuhkan satu semangat dan keteguhan baru untuk terus melangkah ke depan. Di titik ini, pembaca disadarkan bahwa tidak semua orang yang berperangai buruk selalu menyimpan keburukan. Ada sisi-sisi baik yang bisa disentuh, dan tak jarang kehadiran mereka justru memberikan makna tersendiri pada hidup kita.

Di cerita berikutnya, sosok Raja Ikhsan mulai dihadirkan. Diawali dengan kisah perampasan sepeda milik Faras oleh Ikhsan di Ranu Pane, titik awal trek pendakian ke Semeru. Kejadian itu menjadi pemicu dari kejadian-kejadian lainnya, di mana Faras berhasil membangun kedekatan dengan Ikhsan dan mendorong Faras untuk melakukan perjalanan ke Sulawesi demi mencari laki-laki itu.

Tentang sosok Ikhsan ini, pembaca akan ditohok oleh pertanyaan besar yang ia ajukan kepada Faras saat pertemuannya pertama kali. Katanya, “Sebutkan kepadaku sebelas alasan mengapa aku harus menyembah Tuhan, sedangkan aku bisa menyebutkan sepuluh alasan kenapa aku naik gunung, dan sepuluh alasan mengapa aku ingin membunuh ayahku!”

Sebait pertanyaan yang akan membuat pembaca tidak mampu untuk menutup buku sampai di akhir cerita.

Terlebih pertanyaan ini langsung diikuti dengan kisah perjalanan mati-matian yang dilakukan oleh Faras ke Sulawesi demi mencari sosok Ikhsan. Saya sendiri awalnya mengira jika novel ini berlatarkan nuansa romantisme yang membuai pembaca, meskipun pada akhirnya saya harus menyingkirkan itu jauh-jauh. Nuansa romantisme yang disajikan oleh Yana dalam novel ini memang terasa sangat kental, meskipun memang dalam pengertian yang lain.

Sebuah nuansa Romantisme yang membangun jiwa.

Setidaknya itulah yang mampu saya gambarkan setelah menyelesaikan novel ajaib ini.

Kisah tentang Faras-Mareta-Ikhsan kemudian berakhir di Takhta tertinggi Mahameru. Di puncak gunung gundul, tepat di atas dataran pasir yang menjadi puncak tertinggi di Pulau Jawa. Sebuah akhir yang benar-benar berhasil membuat saya merinding, khususnya setelah mengikuti rangkaian-rangkaian cerita yang dikemas dengan begitu epik. Bahkan saya berani menjamin jika pembaca tidak akan dibuat jemu selama membaca novel ini.

 

Latar, Alur, Tokoh, dan Penokohan yang saling mendukung

Bagi saya, selain koda yang menggugah, inilah salah satu poin yang menjadi kekuatan dari novel Altitude 3676 ini. Yana berhasil menghidupkan setiap tokoh yang ada di dalam cerita, serta memberikan peran yang layak bagi masing-masing tokoh demi menyajikan kisah terbaik bagi pembaca. Selain itu, Yana mampu mengolaborasikan lokalitas dari setiap latar dalam cerita dengan alur yang harus dijalani oleh para tokoh. Perpaduan yang manis dan tentu bukan sebuah hal yang mudah untuk dilakukan.

Lalu bagaimana dengan tokoh dan penokohannya?

Pada intinya, di bagian ini, pembaca disajikan pada realitas sosial yang terjadi di masyarakat. Tokoh disajikan benar-benar sebagai makhluk yang tidak sempurna dan melakukan kesalahan. Setiap tokoh memiliki porsi kebaikannya masing-masing, juga porsi kejahatannya masing-masing. Pun di akhir cerita, Yana tidak menghadirkan sesosok malaikat atau sesosok setan yang menjelma sebagai salah satu tokoh dalam cerita. Yana menempatkan setiap tokoh sebagai manusia yang memiliki pilihan untuk menjadi sosok yang jahat ataupun sebaliknya.

Tidak cukup sampai di situ. Yana menyajikan novel ini dengan bahasa yang apik, runut, dan nyaman untuk dinikmati. Pembaca tidak perlu khawatir dengan tanda baca yang salah tempat atau pilihan diksi yang melelahkan. Jika diibaratkan sebagai makanan, maka hampir seluruh bagian dari novel ini sudah memenuhi takaran gizi seimbang.

Sayangnya di beberapa bagian, para pembaca akan dibuat kebingungan akibat alur cerita yang terkesan kurang rapi. Pembaca akan terkesan dihadapkan pada sebuah plot hole atau cacat logika dan hampir memengaruhi keseluruhan isi cerita. Selain itu, salah satu tokoh digambarkan telah mengalami perubahab. Akan tetapi sayangnya

Pembaca akan menangkap kesan plot hole juga perubahan yang begitu tiba-tiba pada diri setiap tokoh. Bahkan dengan tingkat perubahan yang sangat signifikan dan tidak masuk di akal. Akan tetapi pembaca tidak perlu khawatir. Di sepertiga akhir bukunya, Dayana mencoba untuk menjelaskan seluruhnya kepada pembaca sehingga buku ini bisa berakhir secara khusnul khatimah.

 

Ragam kutipan yang menggugah

Hampir serupa dengan karya-karya para pendatang baru di zamannya, Yana secara aktif mengutip kalimat para tokoh yang sudah mendunia seperti Kahlil Gibran dan Dale Carnegie dan mencantumkannya ke dalam dialog antar tokoh. Bagi saya pribadi, ini cukup menyisakan kesan yang agak mistis, meskipun rasanya termasuk aneh ketika seorang tokoh di dalam cerita bisa menghafal begitu banyak kalimat-kalimat yang pernah dilontarkan oleh para tokoh dunia ini. Hafal dalam artian benar-benar hafal hingga titik komanya. Realitas di dunia nyata, rasanya sangat sedikit orang yang seperti itu.

Di beberapa sudut karyanya, Yana juga mencantumkan lirik-lirik lagu baik di awal bab, di pertengahannya, ataupun di ujung. Pada beberapa aspek, pencantuman lirik-lirik lagu ini mungkin sangat membantu bagi penulis untuk mengawali cerita atau merangkai kisah setelahnya. Terlebih jika lagu-lagu itu mempunyai makna yang memang ‘relevan’ dengan cerita. Tapi lain hal bagi pembaca. Di satu sisi, mungkin memang ada pembaca yang akan nyaman membaca lirik-lirik itu sambil mendendangkan iramanya di dalam kepala, karena memang hafal dengan lirik yang ditulis. Namun beda kasusnya dengan mereka yang tidak hafal lagu. Lirik itu kemudian menjadi kosong tanpa kesan, bahkan pembaca bisa melewatkan lirik-lirik itu tanpa mengurangi pemahaman tentang cerita sama sekali.

Mungkin ini memang hanya soal preferensi. Selain hal ini, rasanya layak saya mengacungkan dua jempol sekaligus untuk Yana.

 

Sebuah Potret karya dengan nilai religiusitas yang tinggi

Hampir serupa dengan karya-karya anggota FLP lainnya, novel Altitude 3676 memiliki nuansa Qurani yang begitu kental. Saking kentalnya, saya sendiri merasa tidak ragu untuk menjuluki novel ini sebagai bagian dari sastra putih atau sastra profetik yang sempat booming di akhir era 90-an.

Dalam novel ini, Yana menyuguhkan banyak sekali nilai-nilai keagamaan yang dileburkan ke dalam cerita, meskipun bagi beberapa pihak, apa yang Yana tuliskan dirasa tidak relevan dengan apa yang terjadi di dunia nyata. Misalnya tentang kebaikan tokoh bernama Faras, di mana tokoh ini terkesan ‘tidak memiliki telinga’ saat menghadapi kata-kata ketus dari Ikhsan, atau ‘tidak memiliki mata’ saat sepedanya hancur akibat terjatuh ke jurang.

Hal lain yang menarik adalah apa yang ditulis oleh Yana di dalam novel ini jauh dari kesan mendikte. Pembaca akan disuguhkan pada aliran hikmah yang bisa dinikmati kapan saja, bukan berupa dinding tinggi yang terbuat dari ayat dan harus dipanjat terlebih dahulu untuk menemukan makna di sebaliknya. Maka rasanya layak jika julukan ‘pembangun jiwa’ juga disematkan pada novel ini, sebab hikmah yang ada di dalamnya bisa disesap oleh setiap golongan tanpa merasa terhakimi.

Pada akhirnya novel ini menyajikan perpaduan yang menyenangkan antara unsur intrinsik yang memikat, nilai-nilai ketimuran yang pekat, padanan kata yang rekat, juga koda yang terasa sangat kuat. Sekali lagi novel ini memang layak menjadi pemenang dari IBF Awards tahun 2014 (setelah sebelumnya memenangkan lomba Novel Republika di tahun 2012).

Meskipun terlambat menuliskan resensi ini, tapi tak masalah. Kepuasan bukan terletak pada kapan dan di mana, tapi tentang seperti apa kita memaknai dan mengejawantahkannya.

Terimakasih untuk Yana atas cerita luar biasa tentang tiga sosok bernama Faras-Ikhsan-Mareta, dan terimakasih pula telah membuat saya jatuh cinta pada mereka bertiga, khususnya sosok yang disebut pertama kali.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s