KOPERASI: Pilar Ekonomi yang Dipandang Sebelah Mata (Bag. 1)

Related image
Sumber : www.toonpool.com

Pembicaraan tentang ekonomi memang sering memunculkan beberapa permasalahan sekaligus tantangan. Hadirnya kepentingan ekonomi di tengah-tengah kehidupan masyarakat terkadang mampu membuat masyarakat melangkah ke arah yang lebih maju. Munculnya desa-desa wisata, kluster-kluster usaha, atau wilayah-wilayah sentra menjadi bukti betapa ekonomi mampu memberikan dampak yang besar atas perubahan tatanan kehidupan yang ada di tengah-tengah masyarakat. Kebutuhan ekonomi bahkan mampu mendesak manusia untuk bertindak kreatif, sehingga pemenuhan kebutuhan saat ini tidak hanya terbatas pada kebutuhan untuk melangsungkan kehidupan saja, melainkan muncul juga prinsip-prinsip kepraktisan, kenyamanan, serta estetika dalam penggunaan suatu produk.

Aktivitas ekonomi telah berhasil memicu perubahan dalam berbagai segi, entah itu teknologi, transportasi, kebutuhan-kebutuhan pokok, dan lain sebagainya, meskipun pada prinsipnya semua yang ada di pasar modern saat ini masih sama saja dengan apa yang diperjual-belikan di zaman dahulu, hanya saja pengemasannya berbeda. Pada intinya, kehidupan kita berhasil melangkah ke arah yang lebih maju dan penuh kemudahan.

Meskipun demikian, kehadiran ‘kepentingan’ ekonomi tidak selalu berdampak baik. Hadirnya kepentingan ekonomi dalam kehidupan politik misalnya, telah berhasil memunculkan permasalahan-permasalahan seperti korupsi, kolusi dengan keluarga sendiri, juga nepotisme. Kepentingan ekonomi yang tidak terkontrol juga tidak jarang memunculkan kecurangan-kecurangan dalam aktivitas pasar. Maka wajar ketika muncul sebuah prinsip untuk memaksimalkan keuntungan dengan pengeluaran yang sekecil-kecilnya. Sebuah prinsip yang menghilangkan poin fairness dalam berinteraksi dengan sesama.

Kepentingan ekonomi juga mendorong munculnya berbagai tindakan yang bergerak di luar batas, seperti buruh yang dipekerjakan namun tidak diberikan ‘balasan yang setimpal’ atas apa yang dikerjakan, atau para pedagang kecil yang harus kalah saat bersisian dengan para perusahaan-perusahaan besar bermodal kuat, atau juga para petani yang harus menerima harga rendah dan tidak rasional saat menjual produknya. Baik petani maupun buruh, tidak jarang memang harus berada pada posisi yang benar-benar dirugikan di dalam rantai ekonomi. Pemanfaatan sumberdaya manusia secara ‘berlebihan’ dan ‘tidak manusiawi’ seringkali menjadi pemandangan biasa bagi kedua pihak ini secara khusus. Munculnya sistem ijon yang membuat petani kewalahan dan memunculkan fenomena kemiskinan sistemik misalkan, dan lain sebagainya.

Pada posisi inilah kemudian muncul satu gerakan bernama koperasi dengan berbagai nilai yang terkandung di dalamnya. Koperasi memiliki tugas untuk melakukan penyelesaian terhadap permasalahan-permasalahan yang biasa menimpa golongan-golongan berkategori marjinal, meskipun pada kenyataannya koperasi sempat berkembang jauh lebih luas daripada itu.

 

Perkembangan Koperasi di Indonesia

Related image
Sumber : www.ias.ie

Koperasi di Indonesia mulai mendapatkan perhatian khusus di masa Soeharto, tepatnya saat PELITA I dicanangkan. Di PELITA I, koperasi mendapatkan perhatian dari pemerintah berupa upaya untuk meningkatkan kapasitas para pelaku yang ada di dalamnya, baik orang-orang yang bertindak sebagai pengurus maupun orang-orang yang berada di level pemerintahan. Pemerintah di masa PELITA I menyadari bahwa Koperasi (yang sudah eksis di Indonesia sejak zaman kolonial dan sempat didirikan oleh Budi Utomo dan Sarekat Dagang Islam saat itu) memiliki potensi yang sangat besar apabila mampu dikelola dengan baik. Terlebih koperasi sebetulnya mampu memanfaatkan setiap aspek yang ada di masyarakat, baik dalam hal sumberdaya alam, sumberdaya manusia, jalinan sosial, serta budaya yang ada untuk dikembangkan agar memiliki potensi peningkatan perekonomian bagi masyarakatnya.

Pada masa PELITA V, konsentrasi pemerintah terhadap koperasi semakin menguat. Pemerintah di masa itu melakukan pembinaan kepada sekitar 4000 – 5000 koperasi unit desa (KUD) yang ada di seluruh Indonesia. Pembinaan ini dilakukan pada setiap level koperasi, dan pada akhirnya koperasi di zaman itu memiliki kekuatan yang sangat besar dan mengakar cukup kuat di dalam kehidupan masyarakat khususnya di wilayah perdesaan.

Namun ironisnya saat ini, koperasi hanya dipandang sebagai angin lalu. Lebih parahnya lagi koperasi mulai tidak lagi diperhitungkan keadaannya. Setiap tahunnya jumlah koperasi non-aktif terus bertambah, meskipun fenomena yang sama juga terjadi pada koperasi berstatus aktif. Pada akhirnya, koperasi-koperasi tidak aktif ini memunculkan stigma di tengah-tengah masyarakat bahwa koperasi tidak lagi memberikan harapan yang besar bagi anggotanya. Koperasi yang seharusnya mampu memberikan solusi, justru berubah menjadi lintah bagi para petani. Di beberapa kondisi, koperasi dimanfaatkan oleh beberapa pihak yang tidak bertanggungjawab demi kepentingannya sendiri. Hal ini tentu berdampak pada keengganan masyarakat untuk terlibat di dalam aktivitas perkoperasian.

Koperasi pada nyatanya memang mulai ditinggalkan, bukan hanya dalam hal keinginan untuk menjadi bagian dari koperasi, melainkan juga ditinggalkan secara pemahaman.

Kondisi yang sangat memprihatinkan, dan rasanya perlu untuk dientaskan segera.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s