RUPIAH DAN LIMA PERSEN NASIONALISME

Image result for traveling
Sumber: Meramuda.com

Traveling memang selalu menjadi kegiatan yang menyenangkan, terlebih saat kita mendapat kesempatan untuk menikmati berbagai sajian pemikat mata dari Tuhan. Sebentuk kenikmatan yang hampir tidak pernah diperhitungkan oleh manusia. Meskipun begitu, traveling selalu menyisakan kesan yang tiada habisnya. Pengalaman berpindah dari satu tempat fantastis ke tempat fantastis lainnya sembari berbagi tentang keajaiban yang Tuhan ciptakan kepada orang lain melalui media sosial selalu berhasil membuat perjalanan terasa semakin berkesan. Menuliskan tentang keajaiban negeri di atas awan saat mengunjungi puncak Mahameru; berbagi tentang sejarah besar bangsa Indonesia dan kebudayaannya yang kental saat berkunjung ke Yogyakarta; sensasi terbang di atas ratusan gugusan kepulauan di Nusantara; menikmati sensasi panas terik berbau modern di Doha, Qatar; atau bercerita tentang indahnya langit biru dengan burung camar yang beterbangan di angkasa saat mengunjungi Selat Bosphorus di Istanbul, Turki.

Bagi seorang traveler kecil-kecilan seperti saya, pengalaman-pengalaman ini selalu mampu memberikan banyak hal yang tak mampu digambarkan secara penuh. Tentang betapa memikatnya berbagai budaya yang ada di Indonesia, betapa murah senyumnya pedagang-pedagang kecil di trotoar Jogja, atau tentang betapa megahnya pulau jawa saat dilihat dari atas puncak Mahameru. Pengalaman yang lambat laun meneguhkan budi sekaligus mengasah kepekaan terhadap lingkungan sekitar. Di antara perjalanan-perjalanan ini, tak jarang terselip beberapa kejadian unik dan menyentil kesadaran, terlebih saat saya berkesempatan untuk berkeliling di Turki selama dua tahun penuh. Pengalaman yang menyadarkan saya bahwa Indonesia merupakan negara luar biasa yang tidak bisa disandingkan sama sekali dengan negara manapun di dunia.

Rasa itu bernama Nasionalisme

“Lima persen!” itu kata teman saya sewaktu kami bersama-sama mengibarkan bendera merah putih di salah satu gedung di jantung kota Istanbul. “Kecintaan gue naik lima persen buat Indonesia. Dari 100% jadi 105%!” begitu katanya.

Saya pernah berpikiran bahwa Indonesia merupakan tempat yang tidak nyaman untuk ditinggali, apalagi setelah melihat begitu banyaknya ‘pekerjaan rumah’ yang belum sempat terselesaikan meskipun Indonesia telah melalui beberapa periode pemerintahan. Saya sempat merasa jika terbang dari tanah air akan menjadi salah satu solusi untuk ‘melepaskan beban’ dan ‘kepenatan’ yang selama ini menggunung tentang Indonesia. Akan tetapi pada kenyataannya, saya merasa salah besar.

Diawali dengan pertemuan saya dengan beberapa rekan Turki di Istanbul saat perayaan kemerdekaan Indonesia ke-67 waktu itu. Mereka banyak bertanya tentang Indonesia. Apa spesialnya? Apa yang ada di sana? Keren mana jika dibandingkan dengan Malaysia? Lalu satu pertanyaan terakhir yang sempat membuat saya kesal setengah mati, “Apakah di sana tidak ada universitas yang bagus sampai-sampai kalian harus kuliah di sini?” Sebuah pertanyaan yang mengerucut pada kalimat, “Kami sebetulnya ingin untuk berkunjung ke Indonesia. Itu mimpi kami, apalagi Turki dan Indonesia memiliki ikatan sejarah yang panjang dan kompleks. Negara kita bersaudara,” begitu katanya. Kalimat yang tanpa sadar membuat saya sendiri merasa bahagia sekaligus bangga menjadi seorang ‘Indonesian’.

Beruntung saat itu saya mengikuti pesan salah satu kakak tingkat di sana untuk membawa beberapa lembar rupiah dan dijadikan kenang-kenangan untuk teman-teman Turki yang hadir. Saat itu rupiah benar-benar membantu saya untuk menjelaskan betapa megahnya negeri ini. Mulai dari ‘nol kilometer’ di Aceh sampai Raja Ampat di Papua, dan gambar di bawah ini menjadi salah dua modal yang saya gunakan untuk ‘mencerdaskan’ mereka.

flights.indonesiamatters.com - serebu lama
Sumber : Flight.indonesiamatter.com
Image result for uang 50000 bali
Sumber : Chirpstory.com

Dari kejadian itu, saya mulai belajar bahwa Indonesia memang sebuah negeri kaya dengan sumber daya alam yang melimpah ruah, budaya unik yang tersebar di seluruh Indonesia, penduduk dengan watak yang ramah, juga objek-objek wisata eksotis yang ada di dalamnya. Dua buah uang rupiah di atas telah berhasil mendorong saya untuk mencari tahu tentang Indonesia dengan lebih dalam lagi. Di titik ini saya sejujurnya merasa malu, ternyata sampai di usia saya saat itu, saya belum mengenal negara saya sendiri dengan cukup baik.

Saat itu, secara tidak langsung rupiah telah berhasil menumbuhkan jiwa nasionalisme saya yang sejak berangkat dari Indonesia bisa dikatakan ‘belum terlalu terlihat’.

Rupiah: sebuah identitas bernilai historis

Hal spesial dari setiap rupiah yang pernah saya gunakan adalah unsur kebaruan namun tidak mengurangi ciri khas dan nilai historis yang sudah ada di dalam Rupiah sejak pertama kali diluncurkan. Rupiah selalu mengangkat wajah-wajah baru di setiap lembarnya. Saya bahkan sempat berpikir, andai kata rupiah dijajarkan sejak cetakan pertama hingga cetakan terakhir, itu akan menjadi sebuah bahan ajar yang luar biasa bagi pendidikan sejarah maupun pendidikan tentang wawasan kenegaraan di Indonesia. Dalam hal ini, BI seakan tidak pernah ragu untuk mengeksplorasi keunikan dari setiap sudut Indonesia di dalam Rupiah yang dikeluarkan. Bahkan di cetakan uang terbaru, BI melakukan gebrakan dengan memadukan dua gambar sekaligus di samping foto wajah pahlawan, yaitu gambar tarian khas yang disandingkan dengan destinasi wisata di tanah air.

Image result for uang emisi 2016
Sumber : hmt.mining.itb.ac.id

Bagi saya,  uang baru ini terasa sangat memanjakan. Di satu sisi, saya dikenalkan kembali pada betapa kayanya negeri bernama Indonesia ini, sedangkan di sisi yang lainnya, saya semakin tidak segan untuk mencoba mengenalkan Indonesia kepada masyarakat luar melalui setiap rupiah yang saya bawa. Selain itu, desain dari uang rupiah yang baru dirasa lebih elegan dari rupiah-rupiah yang dikeluarkan sebelumnya. Jika pada periode-periode lalu desain Rupiah terkesan tradisional dan sederhana dengan suasana klasik yang kental, pada periode ini rupiah yang diluncurkan memiliki desain yang lebih modern dan menarik untuk dilihat.

Tidak cukup sampai di situ. Secara tidak langsung sebenarnya Rupiah telah berhasil membangun sebuah konstruksi berpikir di dalam benak saya, bahwa kehidupan yang saya nikmati saat ini merupakan hasil dari cucuran peluh dan tetesan darah para pahlawan yang pernah memperjuangkan kemerdekaan bagi bangsa ini. Hari ini saya bisa menikmati berbagai macam kemudahan dalam beraktivitas, memiliki kebebasan untuk memilih dan belajar, bahkan dengan mudahnya saya bisa menulis seperti ini tanpa merasa khawatir akan adanya ancaman dari pihak-pihak tertentu. Nyatanya hidup saya hari ini dibangun oleh kesulitan dan perjuangan panjang para pendahulu. Rupiah mengenalkan itu semua pada saya sampai hari ini.

Melalui Rupiah saya juga belajar bahwa ucapan Presiden Soekarno tentang JAS MERAH bukan hanya omong kosong belaka. Mengenali sejarah menjadi salah satu komponen penting bagi saya–seorang pemuda dari generasi milenial– untuk memahami sejarah dan identitas bangsanya sendiri di tengah gempuran modernisme dan berbagai kemudahan yang tidak jarang membuat saya lupa tentang semangat yang diperjuangkan oleh para pendahulu negeri ini. Rupiah telah berhasil menjadi benang merah antara saya dengan para pendahulu negeri ini; mengenalkan sejarah tanpa perlu melalui bangku-bangku perkuliahan yang sering terasa menjemukan.

Terlepas dari itu semua, bagi saya, Rupiah memiliki sisi menarik lain yang seakan ingin ditunjukkan oleh pemerintah pada rakyatnya. Sebuah bentangan peta besar tentang kekayaan yang bisa dilihat di sepenjuru negeri ini. Melalui Rupiah, pemerintah seakan menawarkan pilihan tempat-tempat wisata yang bisa dipilih untuk dikunjungi oleh para wisatawan baik lokal maupun internasional. Sebagai traveler, saya sendiri mendapatkan kemudahan untuk memilih kira-kira destinasi mana yang harus saya kunjungi terlebih dahulu ke depannya. Pada akhirnya, rupiah memang luar biasa. Sebuah mata uang dengan corak khas yang mampu membangkitkan rasa kecintaan pada negeri sendiri.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s