SECUIL WAJAH KITA

Image result for faces to draw
sumber gambar : Webneel.com

Sudah beberapa hari ini gerimis turun berantai, dan sama seperti biasanya, kehadiran gerimis selalu menyisakan kesunyian yang tanggung. Gerimis berhasil menyingkirkan kesibukan manusia di pagi hari, meskipun tidak sepenuhnya. Beberapa warga mulai terlihat beraktivitas di luar ruangan, meski rasanya lebih banyak yang memilih tetap berkemul selimut atau sekedar mengurung diri di rumah sembari menikmati suasana yang dihadirkan oleh gerimis.

Warung Bi Elih, tempatku berlangganan sarapan pagi, masih sepi tanpa ada pelanggan sama sekali, kecuali aku dan Kang Hadi dengan sepeda motor butut dan pakaian khas karyawan pabrik garmen miliknya. Kang Hadi bisa dibilang sebagai langganan paling setia. Jangankan gerimis, badaipun ia terjang tanpa basa-basi.

Kesibukan masih terlihat padat di warung Bi Elih, seakan-akan dunia tidak bisa mengganggunya sama sekali. Bi Elih masih sibuk memasak pisang goreng, sedangkan anaknya, Neng Rahmah, dengan cekatan memasukkan gorengan panas ke dalam wadah untuk dibawa ke sekolah. Aku sendiri, sama seperti biasanya, sibuk dengan sepiring nasi hangat dan beberapa lauk sederhana.

Gerimis memang selalu menyisakan kesunyian yang tanggung. Biasanya warung Bi Elih menjadi tempat diskusi yang menyenangkan, tapi sekarang, kehangatan itu terpaksa digantikan oleh kesunyian yang tidak sepenuhnya sunyi. Kepulan asap rokok para buruh yang biasa menemani diskusi-diskusi hangat tentang kehidupan, kini harus berganti dengan udara dingin nan menyejukkan tapi membuat kebas isi kepala.

Aku menghela napas panjang.

Gerimis biasanya memang menyisakan kesan tanggung, bahkan hari ini perasaan tanggung itu berubah menjadi pedih yang menyayat-nyayat. Kemarin pagi kudengar sebuah ledakan mengguncang Thamrin, diiringi sederetan tembakan membabi buta ke segala arah. Seakan-akan penyabungan nyawa memang sedang direncanakan dengan rapi di wilayah Thamrin hari itu. Ledakan yang seakan-akan ingin membuka kenangan lama tentang J W Marriot belasan tahun lalu sekaligus menjadi penanda bahwa hidup yang kita jalani sebagai bangsa tidak akan pernah sama.

Aku mengambil satu pisang goreng hangat, lalu mengunyahnya cepat-cepat. Jika mengingat peristiwa ini, rasanya nafsu makanku selalu kandas dan berganti menjadi emosi yang tak biasa.

“Kang Al, gak tambah nasinya? Biasanya tambah dulu sebelum ambil pisang goreng?” tanya Bi Elih sambil meletakkan pisang goreng yang baru diangkat ke atas nampan.

Aku menggeleng. “Nuhun[1] bi, tapi Al lagi kurang nafsu makan. Inget bom Thamrin kemarin.”

“Ih Bibi juga mulai takut, Kang Al. Kenapa ya Islam jadi begitu? Bom dimana-mana, terus yang ISIS juga. Bibi takut jadinya, apalagi kalau inget si Rahmah yang sebentar lagi masuk kuliah. Bibi takut dia salah arah,” timpal Bi Elih sedangkan tangannya berhenti bekerja. Ada kekhawatiran yang nyata di raut wajahnya.

Aku menggeleng, bingung. Sejujurnya pertanyaan seperti ini seringkali membuatku sedih. Entah berapa banyak muslim di luar sana yang memiliki kekhawatiran serupa hanya karena tindakan sebagian orang yang tidak bertanggungjawab.

“Bukan Islamnya yang salah, Bi,” kataku mencoba menanggapi. “Tapi orang-orangnya yang salah. Setahu Al, selama Al ikut ngaji di pesantren Darut Taqwa sama ikut mentoring di tempatnya Ustadz Ferry, gak ada perintah buat begitu, Bi.”

“Tapi Kang, mereka katanya suka bawa-bawa ayat. Kan Bibi yang gak tahu apa-apa suka jadi takut. Durhaka nanti Bibi kalau ngebantah, tapi ayatnya beneran ada. Kayak kata Kang Al kemarin-kemarin, jangan asal bantah,” ungkap Bi Elih.

Jawaban Bi Elih ini sontak membuatku tersenyum. Memang seperti itu kondisinya. Setiap kali aku makan di warung ini, seringkali aku mencoba berbagi tentang apa yang didapatkan selepas mengaji. Bahkan lebih dari itu, warung ini mulai berubah menjadi tempat pengajian dadakan tentang Islam dan fenomena kekinian.

“Di Islam ndak ada ayat yang menganjurkan untuk bunuh diri, Bi. Bahkan kalau kita sengaja bunuh orang tanpa alasan yang benar, itu sama saja kayak kita bunuh semua orang. Berat Bi hukumannya,” kataku yang kemudian menenggak sisa teh hangat terakhir dari dalam gelas. “Al pamit dulu ya, Bi, nanti takut kejebak macet. Jalan ke kampus agak repot kalau Al terlambat sedikit,” kataku sambil terkekeh seraya berpamitan. Bi Elih hanya mengangguk sambil menjawab salam.

***

Apa yang terjadi di Thamrin kemarin benar-benar menghantuiku. Sejak J W Marriot meledak belasan tahun lalu, aku merasa jika suasana kehidupan beragama hampir tak lagi sama. Di beberapa bagian, Islam dituduh sebagai pelaku utama dan perlu diawasi secara nyata. Beberapa kriteria disusun secara rapi, kemudian beberapa hal seperti jenggot dan celana cingkrang mulai dikategorikan sebagai pakaian orang-orang radikal pendukung terorisme.

Lalu kemarin, dengan semena-mena mereka meledakkan bom di Thamrin seakan-akan itu akan menjadi akhir dari semua permasalahan yang ada. Melihat ini, aku sendiri hampir tak habis pikir. J W Marriot telah berhasil menanamkan ketakutan di negeri ini kepada Islam, agama yang dianut oleh mayoritas masyarakatnya. Lalu sekarang Thamrin. Apa yang sebenarnya menjadi tujuan mereka? Apa mereka benar-benar yakin dengan membunuh orang yang belum tentu bersalah dan bisa jadi beragama Islam juga, lalu Allah menghitungnya sebagai jihad? Lalu mengapa banyak sekali orang yang ikut bergabung dengan mereka?

Pertanyaan demi pertanyaan sejak saat itu muncul beriringan di dalam kepalaku, terlebih setelah seorang ibu bercerita tentang anaknya selama di angkot tadi. “Dia sering pulang sore kalau hari sabtu sekarang ini, katanya ngaji di luar sama teman-teman rohisnya. Saya khawatir dia ikut pengajian aneh-aneh, padahal masih SMA,” begitu katanya. “Anak saya juga sama,” timpal yang lain, “Dia bilang pingin kuliah di Timur Tengah, padahal sekalipun gak pernah sekolah di pesantren.” “Kalau anak saya malah lebih parah lagi,” kata ibu yang satunya, “dia pingin pakai cadar, padahal ibunya gak islami-islami amat! Bicaranya tentang agama terus. Bagus sih, tapi aku khawatir dia kena paham radikal,” katanya. Kemudian setelah itu pembicaraan mereka mulai melebar, tentang ustadz di komplek yang shalatnya tidak pakai qunut, tentang da’i nasional yang melakukan poligami, bahkan tentang kasus perceraian para penceramah yang heboh beberapa waktu lalu di televisi. Nama para ulama nasional mulai muncul, tapi dengan kesan jijik dan tidak percaya.

Belum lagi percakapan para mahasiswa yang mulai berasumsi jika Islam ada yang masa kini dan ada yang masa nabi. Islam masa nabi sudah kandas, dan Islam hari ini adalah Islam teroris yang meledakkan bom di mana-mana. Lalu mereka berkesimpulan jika pengajian memang harus diwaspadai.

Mengapa masyarakat muslim tiba-tiba menjadi serumit ini?

Aku mendengus kesal. Rasanya apa yang sudah aku perjuangkan di kampus selama ini, puluhan rangkaian acara bertema dakwah yang sempat terlaksana, seakan menjadi sepah yang tak berguna sama sekali. Di detik ini aku merasa setiap rangkaian yang aku perjuangkan menjadi sia-sia. Jangankan di tengah-tengah masyarakat, di dalam kampus sendiri, ketakutan pada Islam seakan masih mendarah daging sampai hari ini.

“Aku belum mau, Al,” kata seorang bernama Nada sewaktu aku mengajaknya untuk mencari guru ngaji, daripada terus menerus bertanya padaku. “Aku khawatir, Al,” begitu katanya sewaktu aku tanya kenapa. “Aku takut dapat pembimbing yang ekstrim, sedikit-sedikit bilang dosa. Aku takut jika setelah mengaji nanti justru aku semakin tidak mengerti tentang agamaku sendiri. Sama seperti apa yang kamu bilang tentang orang-orang yang meledakkan diri di Marriot itu.”

Dadaku terasa sesak. Bahkan ruangan sekretariat yang biasanya luas dan ramai, kini sempit dan tidak mampu lagi melecut semangat seperti biasanya. Hampir satu tahun aku menjabat sebagai kepala di lembaga dakwah kampus ini, dan baru kali ini aku merasa jabatan yang aku duduki tidak memberikan dampak sama sekali.

Islam di-stigmatisasi, dan aku tak bisa apa-apa.

“Assalamualaikum, Al,” sapa seseorang dari sebalik pintu mengejutkanku. “Sudah selesai. Apalagi yang perlu dipersiapkan?”

Aku tersenyum lalu menjawab salam. “Bagaimana respon mereka, Nif?” tanyaku. “Diterima dengan baik atau ada penolakan?”

Hanif tertawa. “Kau terlalu banyak berpikir, Al. Mereka bisa datang besok, lalu bagaimana?”

“Kita siapkan jamuan yang terbaik, tentu,” kataku. “Kita siapkan ruangan dan tolong kontak Linda untuk buatkan jamuan. Jangan lupa kabari pembina, aku harap ini bisa jadi titik persatuan. Kau paham kan apa yang aku pikirkan?”

Hanif mengangguk. “Aku ikut saja, Al. Semoga yang terbaik.”

Aku tersenyum, mengangguk yakin.

***

Melambat.

Seperti biasa, rasanya waktu tak pernah mau berkompromi dengan mereka yang tengah menunggu. Jam yang kuperhatikan sejak tadi belum beranjak dari angka sembilan dan dua belas, padahal matahari sudah berjalan sepenggalah, mendekati batas waktu dhuha. Setengah jam lagi pertemuan dimulai dan sampai saat ini belum ada satu orangpun yang hadir. Hanya aku, Hanif, Linda, dan Sarah yang ada di ruangan. Sibuk dengan pikiran masing-masing.

“Aku rasa itu benar, Al,” kata Linda. “Kita sibuk sendiri.”

“Aku sepakat,” timpal Sarah. “Selama ini setiap kelompok bergerak masing-masing, bahkan tanpa ada obrolan sama sekali. Rasanya kita lebih sering berjalan di tempat daripada bergerak maju.”

Aku tersenyum mendengar ini.

“Tapi andai kita coba sedikit rasional,” sela Hanif, “apa mungkin kita benar-benar bergerak bersama?”

“Maksudmu, Nif?” tanya Linda.

“Maksudku begini, Lin,” katanya terjeda beberapa saat, “kau tahu kita mendukung demokrasi dan pemerintah saat ini. Revan, ketua lembaga sebelah sama sekali tidak sepakat dengan demokrasi. Kau tahu, Lin, sebagian dari rekan mereka bahkan menyatakan kalau kita murtad. Ada juga pihak yang memandang demonstrasi sebagai sebuah pemberontakan kepada pemerintah, sedangkan kita sendiri tidak jarang turun ke jalan untuk berdemonstrasi. Katanya darah kita halal untuk ditumpahkan karena ini. Ada juga yang berselisih karena masalah fiqih, semacam qunut misalkan. Apakah dengan ini semua kita akan baik-baik saja?”

Aku tersenyum. “Nif, andai pertanyaan rasionalmu itu benar-benar terjadi, kira-kira apa yang menyebabkan kita seperti ini?”

“Salah paham?” jawab Hanif seraya terkekeh.

Aku tertawa. “Bukan itu. Maksudku, apa kira-kira yang sedang kita dan mereka coba perjuangkan saat ini?”

“Islam?”

Aku mengangguk. “Itu maksudku! Kita memang punya banyak perbedaan, tapi persamaan kita jauh lebih besar daripada itu. Iya kan?” tanyaku.

“Aku harap begitu,” jawab Hanif setengah ragu-ragu.

Sudah setengah jam berlalu, dan detik masih terasa begitu menyiksa.

***

“Teman-teman sekalian,” kataku membuka perbincangan, tepat saat jarum pendek menyentuh angka sepuluh dengan jarum panjang berada di angka tiga. “Terimakasih sudah memenuhi undangan. Ngomong-ngomong saya belum melihat mas Razi. Ada yang tahu kabarnya?” tanyaku memulai kata.

Empat puluh lima menit genap aku menunggu. Tepat di pukul sepuluh kurang sepuluh, ruangan hampir penuh sesak oleh para pimpinan lembaga-lembaga keislaman di kampus. Lalu tepat jam ini, aku bisa tersenyum lega. Percakapan inti baru bisa dimulai setelah semua dipastikan lengkap.

“Razi menolak hadir,” ujar Heru dengan pakaian gamis khasnya. “Tidak akan ada titik temu kata Razi. Kalian tidak serius dalam beragama. Itu yang dia sampaikan.”

Aku tercekat lalu memaksakan diri untuk tersenyum.

“Kalau begitu tolong sampaikan maaf dari kami untuk Razi sampai-sampai dia enggan untuk hadir, meskipun kami mengundangnya atas nama lembaga,” kataku. “Baik teman-teman sekalian, ini mungkin pertama kalinya kita benar-benar duduk di satu meja seperti ini. Kami menginisiasi karena ada satu kekhawatiran setelah kasus bom Thamrin kemarin. Banyak yang beranggapan Islam tidak lagi memiliki nilai-nilai yang dibawa oleh nabi, bahkan Islam hari ini terkesan kejam dan diskriminatif.”

Revan mengangkat tangan, aku mengangguk mengiyakan.

“Amma ba’du,” ujar Revan sambil membenarkan kerah jaket hitam miliknya. Lambang bendera hitam dan putih tersemat di lengan kanannya. “Bagi yang belum mengenal kami. Saya Revan dari Sipil, dan ini Fredi dari Mesin. Menjabat di al-Hayyan,” katanya seraya memutar pandangan.

“Teman-teman sekalian, peristiwa Thamrin kemarin menjadi adegan yang sebetulnya membuka mata kita tentang negeri ini. Lihat betapa terstrukturnya peristiwa kemarin? Bahkan warga bisa berkumpul di sekitaran lokasi, seakan-akan tengah menonton syuting film laga. Daya ledak dari bom yang dibawa juga kecil, dan tentu itu tidak membahayakan orang-orang di sekitar.”

Hanif menjeda. “Jadi apa poinnya?”

“Artinya ini dilakukan berdasarkan desain salah satu pihak, dan bisa jadi pemerintah ada di balik ini semua,” jawab Revan.

“Maksudmu?” suara Hanif terdengar mengejar. Aku menepuk bahunya pelan, tapi ia seakan tak peduli.

“Pemerintah kita dzalim! Mereka yang ada di balik semua ini, termasuk bagaimana Islam di-stigmatisasi seperti kata temanmu itu dalam suratnya,” katanya sambil menunjuk ke arahku. “Pemerintahan harus dibenahi, masyarakat harus dipahamkan, sistem demokrasi ini harus diganti. Indonesia tidak bisa terus menerus seperti ini! Itu satu-satunya solusi!” katanya. Di sampingya, Fredi menarik lengan Revan dan mencoba memaksanya untuk duduk. Para pemimpin lembaga yang lain mulai terlihat gusar.

Hanif berdiri dari kursinya. “Maksudmu apa? Gulingkan pemerintah? Coba kamu rasional sekarang, berapa banyak korban yang bisa jatuh? Apakah dengan melenyapkan demokrasi dari negeri ini, mengganti seluruh elemen pemerintahnya, lalu permasalahan yang kita hadapi akan selesai? Tidak kawan. Ini terlalu utopis!” bentaknya.

Aku berdiri, mencoba menenangkan.

“Maaf akhi[2],” sela Heru. “Sepertinya kami harus tidak sepakat dengan pertemuan ini. Saya mengapresiasi tindakan Alvian untuk mengumpulkan kita di satu forum, tapi ternyata ada yang merencanakan kerusakan di sini. Saya rasa kami harus pamit.”

Aku merasa dadaku mulai panas dan sesak, tak menyangka akan seperti ini kejadiannya. Aku mencoba mengukir senyum, meski setengah dipaksakan.

“Teman-teman, mohon maaf saya tidak menyangka akan seperti ini jadinya,” kataku sambil menghela napas. “Izinkan aku berbicara sebentar, selaku orang yang mengundang kalian. Bagiku, memang perbedaan di antara kita rasanya cukup sulit untuk disatukan. Teman-teman kita dari al-Hayyan memandang demokrasi tidak ideal untuk negeri ini, dan di sisi kami, demokrasi kami pandang sebagai alat yang bisa digunakan sebagai sarana untuk berperan di negeri ini. Di antara kita ada juga yang menganggap kami sebagai orang bodoh dan hanya bermain-main dalam beragama karena tidak memiliki guru yang ilmunya bersambung hingga nabi,” kataku sambil menyandarkan punggung di kursi setelah suasana kembali tenang.

“Teman-teman, tujuanku mengumpulkan kalian karena aku merasa khawatir dengan pandangan teman-teman kita di luar sana mengenai Islam. Awalnya aku menganggap merekalah yang salah karena tidak memahami Islam dengan baik, tapi di pertemuan ini aku seakan dipahamkan jika mereka bukanlah akar masalahnya. Kitalah masalahnya. Aku melihat betapa Islam menjadi mengerikan setelah aku melihat perdebatan kalian barusan.”

Revan mengangkat tangan, mencoba menyela. Aku menggeleng.

“Izinkan aku selesaikan urusanku dulu, Rev,” kataku.

Kulihat Fredi menepuknya sembari menggeleng.

Aku menarik napas panjang, mencoba menenangkan diri. “Kalian tahu kemarin ada seorang ibu yang mengkhawatirkan pemikiran anaknya karena bergabung di rohis sekolah! Ada juga seorang ibu yang melarang anaknya untuk bercadar! Di beberapa tempat, orang-orang mulai bersemangat untuk membubarkan rohis dan lembaga dakwah kampus karena dianggap sarang dari pemahaman radikal! Ini permasalahan kita bersama, lalu kita masih ribut-ribut sendiri?

Aku tahu banyak sekali perbedaan di antara kita sekarang ini. Tapi apakah layak dengan perbedaan itu kemudian kita melupakan kesamaan yang kita miliki? Agama kita satu, Tuhan kita satu, Nabi kita juga satu. Lalu apa yang menjadi masalah sekarang? Apa karena demokrasi lantas kita berpisah kubu lalu bertengkar seperti kalian berdua?” kataku sambil menunjuk ke arah Revan dan Hanif, “tindakan seperti ini hanya semakin memperburuk citra Islam di mata orang banyak. Apa kalian tidak bisa berpikir sejauh itu?

Aku hanya berharap jika kita bisa sama-sama bergerak, kembali ke apa yang dicontohkan nabi dahulu. Sama-sama merangkul bukan memukul, memahamkan dan bukan menceramahi. Aku hanya berharap kalian bisa memahami apa yang kusampaikan.” Aku lagi-lagi menghela napas panjang.

Setelah perdebatan dan diskusi yang cukup panjang, forum akhirnya aku tutup dengan perasaan kecewa. Pada akhirnya tidak ada titik temu yang berhasil dirumuskan sama sekali. Linda dan Sarah juga terlihat terpukul, sedang Hanif berkali-kali meminta maaf atas apa yang telah ia katakan selama forum berlangsung.

Forum berakhir tanpa solusi sama sekali.

***

Waktu menunjukkan pukul sembilan malam dan masjid kampus mulai sepi dari aktivitas mahasiswa. Hanya beberapa orang saja yang terlihat berbaring di sisi-sisi tiang ataupun merapat ke dinding, termasuk aku. Detik ini dadaku mulai terasa lapang. Beberapa menit yang lalu, Heru mengirimiku pesan.

Forum tadi sedikit memberikan pencerahan pada kami. InsyaAllah kami siap berkolaborasi, katanya.

Tak lama dari pesan itu, Fredi juga mengirimiku pesan.

Secara kelembagaan aku mohon maaf jika kita memang belum bisa berjalan beriringan. Tapi aku punya sedikit gagasan pribadi. Menurutku perbaikan bisa-bisa saja kita lakukan di dalam organisasi masing-masing sebelum bekerjasama di masa mendatang. Terima kasih sudah memulai.

Aku tersenyum seraya bernapas lega.

Kurasa permasalahan ini muncul tidak hanya karena framing buruk dari media massa terhadap Islam, akan tetapi juga muncul karena perilaku para penganutnya sendiri. Pun di sisi lain, banyak dari masyarakat kita yang belum mampu untuk menerima perbedaan, meski para ulama sering berpesan jika perbedaan adalah berkah.

Aku bersyukur melihat betapa kuatnya toleransi yang terbentuk antar pemeluk agama di negeri ini, meskipun di sisi lain aku harus menerima jika toleransi itu belum tentu berlaku pada saudara yang menganut agama yang sama.

Ah, ternyata perjuanganku masih panjang.

Di detik yang sama, tubuhku terlonjak. Aku teringat satu hal penting yang terlewatkan hari ini.

“Astaghfirullah!” teriakku sambil berlari keluar dari masjid, “Sarapan tadi pagi belum dibayar!”

Muhammad Andika Widiansyah Putra

Bogor, 18 November 2017

[1] (Bahasa Sunda) Terima kasih

[2] Sapaan untuk saudara laki-laki

 

* Cerpen ini menjuarai IPB Islamic Festival 2017 tingkat Nasional

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s