Traveling: Kesempatan Beribadah, Berinvestasi, dan Belajar ala Kekinian

t5bWaXoOFW8hPOo5hc4BMRKl39aQlVgD.jpg

Warna-warni dalam kehidupan manusia semakin hari terasa semakin beragam. Hadirnya teknologi baru serta munculnya tren baru di tengah-tengah masyarakat seakan menuntut setiap orang untuk menjadi bagian dari tren yang sedang tumbuh tersebut.

Salah satunya katakanlah tren swafoto. Membagikan foto diri di tempat-tempat bersejarah, tempat-tempat modern dan berbau glamour, tempat-tempat makan (beserta makanannya), dan hal lainnya.

Seiring berjalannya waktu, tren tersebut semakin hari seakan berubah menjadi sebuah kompetisi virtual tak kasat mata, yakni orang-orang berlomba untuk menunjukkan hampir seluruh kegiatan yang dilakukan kepada orang lain. Hal tersebut semakin kentara setelah media-media sosial mulai meluncurkan fitur-fitur baru, katakanlah instastory atau produk serupa dari Facebook.

Menghadapi fenomena ini, sebagian orang mulai bersuara mengenai dampak buruk dari tren yang ada. Beberapa mengatakan bahwa unggahan-unggahan tersebut mendorong masyarakat untuk berperilaku konsumtif tanpa memedulikan lingkungan sekitar.

Meskipun demikian, beberapa pihak menganggap jika hal tersebut sebetulnya memberikan dampak positif yang cukup besar. Salah satunya ialah dengan munculnya gaya hidup baru berupa tumbuhnya keinginan di dalam diri orang-orang untuk mengunjungi tempat-tempat wisata, mendaki gunung, mengunjungi kedai-kedai yang menyajikan makanan khas, dan lain sebagainya yang nantinya akan berdampak pada pertumbuhan kondisi perekonomian di tengah-tengah lingkungan masyarakat.

Munculnya gaya hidup tersebut perlahan membuat seseorang mulai rela untuk mengeluarkan sejumlah besar uang demi mendapatkan pengalaman berharga, atau sekedar menjadi pemuas keinginan untuk mengekspresikan diri di hadapan orang lain.

Banyak di antara mereka yang bahkan sudah menentukan destinasi yang akan dikunjungi satu atau dua tahun mendatang dan memperkirakan effort seperti apa yang harus dikeluarkan.

Banyak diantara mereka ada yang rela bekerja paruh waktu, membuka usaha alakadarnya, membuat project-project sosial agar didanai, atau bahkan meminjam uang dari orang lain demi terwujudnya keinginan tersebut.

Jika dipikirkan dalam-dalam, traveling memang menuntut seseorang untuk mengeluarkan uang dalam jumlah yang tidak sedikit dan cenderung berlebihan. Apalagi jika traveling yang dilakukan hanya untuk memenuhi keinginan untuk melakukan swafoto dan mengumpulkan like sebanyak-banyaknya.

Namun di balik itu semua, traveling sebetulnya menyimpan beberapa keuntungan yang akan memberikan dampak positif bagi seseorang baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang. Beberapa keuntungan tersebut antara lain:

1. Mendapat kesempatan untuk memperoleh kemuliaan dalam agama

iwe97hX2SCH7IVWnRcaX-VnCf1rDVPCR.jpg

Aktivitas Traveling memiliki kedudukan tersendiri di dalam agama Islam. Beberapa literatur mencatat jika para pelaku traveling mendapatkan kemuliaan berupa pengampunan atas dosa dan mendapatkan kemuliaan berupa mustajab (mudah terkabul)-nya doa.

Selain itu, traveling memberikan kesempatan bagi seseorang untuk mengamalkan beberapa sunnah seperti memilih seorang pemimpin di dalam perjalanan, mendapat kesempatan untuk mengamalkan beberapa ilmu yang tidak mungkin diamalkan selama tinggal di suatu tempat seperti shalat jamak dan qasar, serta banyak hal lainnya.

2. Menjadi investasi jangka panjang

3WOslA-m5J2-UJM1zGKOFxhJMyVBC91T.jpg

Traveling yang dilakukan secara matang dan terencana sebetulnya dapat menjadi investasi jangka panjang bagi seseorang. Melalui traveling, seseorang mendaptkan kesempatan untuk berinteraksi dengan kondisi yang baru, bertemu dengan orang-orang baru, serta berkesempatan untuk mendapatkan kenalan atau rekan baru selama perjalanan.

Hal ini tentunya akan memperluas jaringan yang dimiliki, dan bisa jadi jaringan tersebut akan memberikan manfaat pada kita baik dalam jangka pendek atau mungkin juga dalam jangka panjang.

3. Meningkatkan keterampilan dan pengetahuan seseorang

Xdx-lV3UirAs7mQLVRPe_Dc9uUIkimDd.jpg

Melakukan traveling dengan cara backpacker biasanya terasa lebih menyenangkan daripada jika dilakukan melalui travel agentBackpacker memberikan kesempatan bagi seseorang untuk mengunjungi tempat-tempat wisata yang lebih banyak, juga dapat berdiam di beberapa tempat tanpa perlu terburu-buru karena jadwal yang sudah ditentukan sebelumnya.

Metode backpacker juga memberikan keuntungan lain, salah satunya mendorong seseorang untuk lebih kreatif, dan seringkali menghadapkan seseorang pada berbagai macam masalah yang umumnya tidak ditemukan di lingkungan tempat tinggal, seperti kondisi kehabisan bekal makanan, kekurangan uang, tersendat di masalah administrasi, dan banyak hal yang tentunya cukup ‘mengkhawatirkan’ bagi sebagian orang.

Meskipun demikian, hal tersebut seringkali mendorong seseorang untuk belajar akan banyak hal dan acapkali mampu memunculkan potensi-potensi yang selama ini tidak pernah diasah sama sekali.

*Tulisan ini terinspirasi dari sesi Sharing Alumni di Aula Rumah Kepemimpinan Regional 5 Bogor beberapa waktu lalu.

 

Telah dipublikasi di Selasar

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s