Lemahnya Daya Tawar Petani dan Rapuhnya Kondisi Perekonomian di Perdesaan (2)

Image result for petani karet
Sumber gambar: Banten Bangkit

Seperti yang telah disinggung dalam tulisan sebelumnya, permasalahan mengenai rendahnya tingkat produktivitas yang dialami petani karet memberikan dampak pada turunnya jumlah pendapatan yang diperoleh. Ironisnya, hal itu tidak hanya berdampak pada kehidupan para petani karet dan keluarganya saja, tetapi dampak negatif yang dihasilkan justru jauh lebih luas.

Dengan tingkat pendapatan yang rendah, petani karet mengalami kesulitan untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan pokok keluarganya, sehingga terkadang mereka harus berhutang ke warung-warung kelontong untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Kondisi ini tidak hanya menimpa satu atau dua orang petani karet saja. Jumlah tersebut sering kali mencapai angka belasan dengan besaran utang yang dapat dikatakan tidak sedikit, sehingga warung-warung kelontong yang diutangi tidak mampu melakukan pengisian ulang barang-barang yang akan diperjual-belikan.

Akibatnya, para pelaku usaha mengalami permasalahan yang sama, di mana pendapatan yang dihasilkan dari aktivitas jual beli tidak dapat menutupi modal yang sudah dikeluarkan serta mengakibatkan sulitnya para pelaku usaha untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Kondisi yang terjadi secara berantai tersebut kemudian memunculkan suatu keyakinan tersendiri di mana kemiskinan di wilayah perdesaan seakan-akan terbentuk secara sistematis dan terasa sangat sulit untuk diurai setiap simpulnya.

Hal yang saya coba paparkan di atas sebetulnya merupakan sebagian kecil dari cerminan kondisi perekonomian di perdesaan saat ini. Meskipun hal tersebut tidak dapat menjadi tolok ukur untuk menilai kondisi perekonomian di seluruh wilayah perdesaan di Indonesia, tetapi sebetulnya kita saat ini sudah dapat menarik kesimpulan bahwa pada kenyataannya setiap elemen yang berada di tengah-tengah masyarakat sebetulnya tidak terlindungi sama sekali dari goncangan-goncangan yang terjadi di dalam perekonomian. Khususnya apabila goncangan tersebut menimpa komoditas utama yang diusahakan oleh masyarakat.

Walaupun demikian, bukan berarti permasalahan perekonomian yang terjadi di wilayah perdesaan tidak dapat diselesaikan sama sekali. Masyarakat perdesaan, khususnya para petani pada umumnya masih memiliki rasa ingin tahu dan semangat belajar yang sangat tinggi. Hanya saja petani menghadapi kesulitan untuk mengakses informasi-informasi terbaru, serta tidak ada pihak-pihak yang mengayomi petani secara berkelanjutan.

Akibatnya, hasil-hasil penelitian yang seharusnya mampu untuk diterapkan dan menjadi solusi dari permasalahan yang ada, justru tidak dapat terserap dengan baik oleh para petani. Petani kemudian hanya bergerak sesuai dengan keyakinan dan kebiasaan yang sering kali telah diwariskan secara turun-temurun dari generasi-generasi sebelumnya tanpa mengetahui mana yang akan benar-benar memberikan keuntungan, dan mana yang justru akan merugikan petani, seperti mengakibatkan rusaknya komponen-komponen tanah dan menurunnya tingkat produktivitas sebelum waktunya.

Selain itu, petani juga sering dihadapkan pada permasalahan berupa terjebaknya para petani di dalam permainan harga yang dilakukan oleh tengkulak (meskipun tidak semua tengkulak bertindak demikian). Petani mendapatkan harga yang tidak sewajarnya sehingga keuntungan yang diperoleh petani tidak terlalu besar. Kejadian tersebut sering kali terjadi akibat adanya kegagalan pasar di sektor pertanian on-farm, di mana petani tidak mendapatkan informasi yang memadai tentang harga pasar dari produk yang dijualnya.

Dalam kondisi ini, petani hanya bertindak sebagai penerima harga yang telah ditentukan oleh tengkulak tanpa mampu melakukan banyak hal. Selain itu, petani juga dihadapkan pada kondisi tidak efisiennya rantai pemasaran produk yang ada sehingga petani sering kali dirugikan dengan harga yang dapat dikatakan tidak manusiawi sebab setiap pihak yang ada di rantai pemasaran berharap untuk mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya tetapi dengan biaya yang sekecil-kecilnya.

Dalam usaha penguatan perekonomian di wilayah perdesaan, penguatan para petani memang penting untuk dilakukan terlebih dahulu. Diseminasi teknologi dan ilmu pengetahuan, pendampingan kepada petani, serta pemberian pelatihan berkesinambungan kepada para petani dapat menjadi alternatif guna menyelesaikan permasalahan-permasalahan yang terjadi.

Dengan demikian, penyelesaian dari permasalahan yang terjadi di tengah-tengah kehidupan perekonomian masyarakat perdesaan sebetulnya menjadi tanggung jawab bersama dari setiap pihak. Diperlukan adanya kolaborasi antara pemerintah, sektor swasta, serta pihak akademisi untuk saling bahu-membahu dalam usaha penyelesaian permasalahan perekonomian yang sering kali terjadi di wilayah perdesaan.

 

Telah dipublikasi di Selasar

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s