Menyoal Terseoknya Usaha Pengembangan Desa (Bagian 2)

https://www.inovasee.com/wp-content/uploads/2017/07/desa-unik-di-indonesia.jpg

Bukan karena ketidakmampuan, melainkan sebuah dampak dari keterbatasan

Ada kemungkinan bahwa Badan Usaha Milik Desa (BUM Desa) akan mulai menjamur di tahun 2018. Terlebih, kabarnya jumlah dana yang turun di tahun depan akan menyentuh angka yang lebih fantastis daripada tahun 2017 ini. Selama bulan Juli hingga Agustus, untuk wilayah Sumatra Utara, kurang lebih dua kali bimbingan teknis telah dilakukan kepada para kepala desa.

Kepala desa-kepala desa yang telah saya temui umumnya merasa optimis bahwa BUM Desa yang nantinya akan coba didirikan memiliki potensi yang besar untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa. Terlebih, para perangkat desa sudah mampu melihat bahwa wilayah Padang Lawas, khususnya, memiliki pasar yang masih terbuka lebar untuk dimasuki, utamanya untuk produk perikanan air tawar, peternakan sapi pedaging, dan peternakan ayam petelur.

Wacana pendirian BUM Desa, khususnya untuk wilayah Padang Lawas, tempat saya mengabdi selama 40 hari, memang mulai terasa semakin terang dan semakin terasa geliatnya. Hal tersebut saya temui di lapangan. Beberapa desa meminta bantuan untuk dibuatkan perencanaan bisnis desa maupun analisis keuangan untuk pengalokasian dana agar kegiatan bisnis dapat berjalan dengan baik.

Di samping itu, beberapa BUM Desa yang telah berdiri juga meminta untuk dilakukan pengecekan terhadap beberapa permasalahan yang telah muncul selama satu tahun berjalan. Pada umumnya, pihak desa sudah memiliki gambaran jelas, meskipun ada beberapa hal yang membuat saya dan tim merasa cukup khawatir tentang keberlangsungan bisnis yang dijalankan.

Pada BUM Desa yang masih berada dalam tahap perencanaan, pihak desa umumnya masih merasa bimbang dengan komoditas yang akan diusahakan. Kekhawatiran muncul dari jumlah modal yang harus dikeluarkan, sehingga pihak desa umumnya memilih untuk membudidayakan jenis-jenis hewan berukuran kecil dengan produksi yang cepat dan biaya yang tidak terlalu besar. Ada pula yang lebih memilih untuk mengalokasikan dana desa untuk usaha-usaha yang terhitung cukup sulit untuk berkembang, seperti simpan pinjam maupun usaha jual beli pupuk.

Pada BUM Desa yang telah berdiri, muncul permasalahan mengenai manajemen keuangan. BUM Desa tidak memiliki perencanaan, bahkan pencatatan keuangan sama sekali. Dalam wawancara yang saya lakukan mengenai dana yang telah dikeluarkan, pihak pengelola hanya menjawab, “Ya sekitar segitu,” sembari menunjuk papan yang ada di depan lokasi pendirian BUM Desa.

Selain itu, saat saya dan tim menanyakan mengenai perencanaan pasar yang akan dituju, pihak pengelola masih menggeleng dan mengedikkan bahu sebelum akhirnya tim memberikan beberapa penawaran sebagai solusi dari permasalahan yang ada.

Melihat kondisi ini, dalam diri saya pribadi muncul beberapa kekhawatiran, khususnya mengenai dampak yang akan dihasilkan dari kegiatan BUM Desa terhadap masyarakat. Terlebih, umumnya masyarakat memang menyimpan harapan lebih terhadap kehadiran dari BUM Desa tersebut.

Selain itu, saya juga merasa bahwa desa memiliki banyak sekali potensi yang memang belum terberdayakan, sehingga sentuhan-sentuhan perlu untuk diberikan guna mengoptimalkan potensi yang ada tersebut. Menurut hemat saya, desa sebetulnya hanya mengalami ketertinggalan dan keterbatasan, bukan ketidakmampuan untuk berkembang ataupun kondisi-kondisi serupa yang menjadi topik pembicaraan selama ini.

Mahasiswa perlu mengambil peran

Kondisi keterbatasan sebetulnya tidak hanya dialami oleh desa-desa yang saya datangi, tetapi bisa jadi hal tersebut juga terjadi di sebagian besar desa yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia. Memang hal tersebut (keterbatasan) sering kali menjadi kendala terbesar dalam upaya memajukan kondisi perekonomian di wilayah perdesaan.

Hal ini menjadi ironi tersendiri, sebetulnya. Para penduduk desa masih banyak yang memiliki kemauan dan semangat yang cukup tinggi untuk belajar dan menyerap hal-hal baru, hanya saja kondisi keterbatasan ini menjadi penghalang bagi masyarakat desa untuk berkembang ke arah yang lebih mapan.

Masyarakat desa yang saya datangi sering kali menagih untuk berbagi mengenai ilmu yang diperoleh dari perkuliahan secara lebih dalam, sebab kebanyakan dari masyarakat merasa hanya mengetahui kulit dari ilmu tersebut. Misalnya, masyarakat memahami bahwa harga yang rendah akan lebih dipilih oleh konsumen dan barang dagangan akan lebih laris, sehingga masyarakat menjual produk dengan harga yang murah, padahal harga yang ditetapkan sebetulnya bisa lebih daripada itu.

Masyarakat belum mengetahui pentingnya melakukan pemberian nilai tambah terhadap produk melalui proses pengolahan dan pengemasan untuk meningkatkan harga jual dari produk tersebut.

Pada titik inilah, peranan mahasiswa terasa sangat diperlukan, entah melalui program KKN yang diikuti maupun melalui pengabdian pribadi kepada masyarakat setelah lulus dari bangku perkuliahan. Peran mahasiswa dan akademisi akan semakin diperlukan ke depannya, seiring dengan munculnya program-program dari pemerintah yang membutuhkan kemandirian masyarakat untuk bergerak.

Sebab, terkadang, pergerakan yang terjadi di masyarakat sebetulnya memiliki potensi untuk berkembang dengan baik, tetapi potensi tersebut justru tidak termanfaatkan akibat kurangnya informasi maupun pengetahuan yang dimiliki oleh masyarakat sehingga terjadi kesalahan di dalam proses yang dijalankan.

Padang Lawas, Agustus 2017

Sumber gambar: Inovasee

Telah Dipublikasi di SELASAR.COM

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s