Menyoal Terseoknya Usaha Pengembangan Desa (Bagian 1)

https://i0.wp.com/pemberdayaan.kemendesa.go.id/resources/images/slide2.jpg

Di era modern ini, perhatian terhadap desa terasa semakin meningkat, terlebih dengan dikucurkannya dana desa dengan nominal yang fantastis. Bahkan, dengan angka tersebut, muncul banyak sekali harapan, seperti meningkatnya fasilitas yang ada di desa, terdorongnya kesejahteraan masyarakat ke arah yang lebih maju, atau bahkan terciptanya desa-desa yang mampu memenuhi sendiri seluruh kebutuhannya.

Harapan ini semakin terlihat setelah pemerintah menetapkan peraturan perundang-undangan yang mengatur mengenai pengalokasian dana desa serta menyelenggarakan berbagai kegiatan guna menambah pemahaman dan kemampuan dari perangkat desa agar mampu mengalokasikan dana yang mampu memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi masyarakat desa.

Semangat mengembangkan wilayah pedesaan menjadi desa-desa mandiri semakin terlihat dengan terbitnya peraturan yang membagi proporsi dana desa menjadi beberapa bagian, termasuk sekitar 30% dari keseluruhan dana yang turun setiap tahun untuk dikembangkan menjadi bisnis berbasis potensi yang ada di dalam desa dengan status sebagai Badan Usaha Milik (BUM) Desa.

Hal ini kemudian terasa seperti gayung bersambut, di mana Indonesia diisukan akan mengalami kondisi bonus demografi di beberapa tahun mendatang. Hal tersebut menjadi peluang yang sangat baik bagi setiap pelaku usaha untuk memperoleh tenaga kerja muda yang masih dalam masa produktifnya. Di samping itu, ini juga menjadi kesempatan bagi negara untuk mendorong kondisi perekonomian nasional ke arah yang lebih baik.

Potensi bonus demografi ini juga terlihat jelas di wilayah perdesaan, terlebih di tengah masyarakat desa masih banyak keluarga dengan anggota keluarga inti melebihi empat orang. Jumlah pemuda dan anak-anak kecil yang tengah bertumbuh terlihat melebihi jumlah lansia maupun orang yang tengah mendekati usia tersebut.

Secara tekstual, hal ini tentu menjadi sebuah kesempatan besar bagi desa untuk mewujudkan cita-cita pemerintah pusat guna menciptakan desa yang mandiri, terlebih dengan melimpahnya jumlah kaum muda yang ada di dalam desa. Namun, benarkah demikian?

Desa masih memiliki permasalahan sumber daya yang belum terselesaikan

Wilayah perdesaan sering kali diidentikkan dengan beberapa permasalahan, seperti sulitnya akses pendanaan untuk mengembangkan potensi desa, juga tentang kondisi pendidikan yang masih terbilang cukup rendah jika dibandingkan dengan wilayah perkotaan. Jumlah warga yang putus sekolah di wilayah perdesaan, entah itu di kalangan golongan tua maupun golongan muda, masih terbilang banyak.

Permasalahan pendidikan di kalangan orang-orang tua memang dapat dikatakan “sudah tidak mampu diatasi lagi”. Meskipun demikian, golongan tua biasanya memiliki pengalaman yang jauh lebih matang dari golongan muda. Sementara itu, di golongan muda, permasalahan ini muncul ketika para pemuda dihadapkan pada permasalahan perekonomian keluarga.

Para pemuda tidak lagi mampu melanjutkan pendidikan dan menyerap perkembangan dari ilmu pengetahuan dengan lebih leluasa di institusi-insititusi pendidikan, sehingga memang dari segi pengetahuan maupun pengalaman, para pemuda dihadapkan pada kondisi ketertinggalan. Hal ini menjadi kekhawatiran tersendiri, terlebih kondisi persaingan di masa mendatang akan semakin ketat.

Kondisi ini tidak hanya menjadi masalah bagi si pemuda secara individu, tetapi sebetulnya akan menjadi problematika juga bagi desa, khususnya dalam usaha untuk mengembangkan perekonomian desa melalui pengoptimalan fungsi BUM Desa di masa mendatang. Kondisi pengetahuan dan keterampilan yang dapat dikatakan minim akan menghadapkan desa pada minimnya sumber daya yang mampu untuk mengelola masalah-masalah yang berkaitan dengan manajemen dan urusan-urusan “kantor” lainnya.

Tidak menutup kemungkinan, di masa mendatang, desa tidak lagi menggunakan sumber daya manusia yang ada di dalam desa untuk menjalankan dan mengembangkan badan usaha ini, melainkan harus menggunakan tenaga kerja dari luar wilayah desa, terlebih desa masih dihadapkan dengan kondisi “hijrahnya” golongan muda, yang memiliki tingkat pendidikan yang dapat dikatakan tinggi, untuk mencari kehidupan lebih baik di perkotaan.

Perlunya aktivitas “pewarisan” di dalam desa

Dengan pemaparan permasalahan di atas, sebetulnya desa tidak dihadapkan pada permaslahan yang bersifat absolut. Artinya, bukan berarti para pemuda desa tidak dapat “diberdayakan” sama sekali. Serupa dengan pemuda yang ada di wilayah perkotaan, setiap pemuda di wilayah perdesaan sebetulnya memiliki kemampuan yang sama untuk menyerap pelajaran dan pengalaman baru dari orang lain.

Selain itu, bukan berarti di wilayah perdesaan tidak terdapat orang-orang yang memiliki keahlian untuk menyelesaikan permasalahan-permasalahan yang telah dipaparkan di atas. Di kalangan perangkat desa sering kali ditemukan orang-orang yang memiliki pengalaman terkait hal di atas dan dapat mengatasi permasalahan-permasalahan tersebut dengan baik.

Sayangnya, seperti yang terjadi di wilayah perdesaan lainnya, pemuda sering kali tidak mendapatkan porsi yang “seimbang” untuk mengembangkan diri. Pemuda acap kali dianggap tidak memiliki kemampuan untuk menangani hal-hal yang bersifat serius, sehingga hal-hal tersebut umumnya “dimonopoli” oleh pihak-pihak dari golongan tua dan minim pelibatan terhadap pemuda di dalamnya.

Di tengah desa, pemuda sering kali hanya diberikan porsi-porsi kecil, seperti penyelenggaraan kegiatan-kegiatan pengajian ataupun perlombaan insidental dalam desa, sedangkan hal-hal yang berkaitan dengan kegiatan yang memiliki dampak yang lebih besar, peran pemuda seakan tidak memiliki bekas sama sekali.

Apabila kondisi ini terus berlanjut, ucapan Soekarno tentang sepuluh orang pemuda yang mampu mengguncang dunia akan menjadi mimpi belaka. Pengucuran dana untuk mengembangkan desa bisa jadi tidak akan memberikan dampak maksimal bagi peningkatan kesejahteraan di dalam desa. Fungsi BUM Desa yang awalnya akan dijadikan sebagai media untuk memanfaatkan keseluruhan potensi desa tidak akan terlaksanakan secara sempurna.

Memang, bisa jadi potensi alam yang dimiliki oleh desa dapat termanfaatkan dengan baik, tetapi bagaimana dengan potensi sumber daya manusia yang sebetulnya ada di dalam desa? Apakah BUM Desa dapat benar-benar mengentaskan permasalahan-permasalahan di dalam desa, termasuk kemiskinan?

*Bersambung*

Sumber gambar: pemberdayaan.kemendesa.go.id

Telah dipublikasi di SELASAR.COM

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s