Sejarah dan Fiksi dikawinkan? Apa jadinya?

Ini menyebalkan dalam artian sebenarnya! Bagaimana bisa sejarah disandingkan dengan fiksi dalam satu buku tanpa ada sentuhan perubahan sama sekali di dalam sejarahnya? Padahal sejarah yang disampaikan di situ dituliskan secara gamblang sesuai dengan literatur yang ada kemudian diiringi fiksi yang seakan-akan menjadi penjelasan (atau pembenaran) dari sejarah yang ditulis itu. Parahnya lagi, sejarah yang diangkat merupakan sejarah yang cenderung dianggap ‘tabu’ untuk diangkat dalam bentuk novel bagi sebagian orang. Meskipun demikian, saya harus mengakui jika Tasaro GK telah berhasil menggebrak itu semua melalui tetralogi ini, khususnya di buku pertama: Muhammad, sang lelaki penggenggam hujan. Apalagi sejarah yang diangkat merupakan sejarah yang telah menjadi bagian dari nyawa setiap muslim di seluruh dunia: Sejarah kehidupan Rasulullah Muhammad SAW.

Judul Buku                  : Muhammad SAW, Lelaki Penggenggam Hujan
Jumlah Halaman        : +- 700 halaman
Penerbit                       : Bentang Pustaka
Penulis                         : Tasaro GK

Source : mizanstore.com

Pengangkatan sejarah sebagai ‘inti’ utama di dalam novel terkadang menjadi perdebatan tersendiri, setidaknya itulah yang sering saya alami selama berdiskusi tentang buku maupun film layar kaca yang kisahnya diadopsi dari peristiwa-peristiwa masa lalu. Ada kalanya sejarah yang diangkat justru mengalami distorsi, atau munculnya tokoh-tokoh fiktif yang sebenarnya tidak ada di dalam sejarah itu tapi justru diberikan peranan yang sangat penting di dalamnya oleh si penulis. Parahnya lagi, terkadang ada yang menambahkan moment-moment tidak perlu sehingga terjadi salah paham di kalangan ‘konsumen’ tentang sejarah itu sendiri. Tak jarang saya menemukan beberapa teman diskusi yang salah kaprah mengenai hal tersebut. Mereka memercayai bawa tokoh atau moment itu memang benar-benar ada serta memberikan peranan yang sangat krusial di dalam proses terjadinya sejarah tersebut. Permasalahan ini semakin rumit ketika pemahaman yang serampangan itu kemudian disebarluaskan kepada orang lain (yang juga tak tahu misalkan) sebagai sebuah kebenaran.

Kasus ini pernah saya temukan diantara penikmat serial Assassin’s Creed yang memercayai keseluruhan cerita sebagai sebuah kenyataan. Ia beranggapan bahwa tokoh-tokohnya merupakan tokoh nyata serta apa yang terjadi di dalamnya juga merupakan peristiwa yang nyata. Semisal peranan Leonardo da Vinci sebagai arsitek dari teknologi-teknologi canggih yang dimiliki oleh para Assassin untuk membunuh target-target mereka, atau keluarga Medici yang benar-benar bersekutu dengan keluarga Auditore. Melihat ini, awalnya saya termasuk orang yang kemudian bersikap skeptis untuk membaca novel hasil adaptasi dari sejarah. Selain karena seringkali menemukan penggubahan yang ‘tidak tepat’ dari si penulis, saya pribadi terkadang merasa khawatir kalau apa yang saya ketahui tentang sejarah nantinya justru malah ikut ‘terdistorsi’. Ketakutan berlebihan yang tak mendasar memang, akan tetapi saya rasa tidak ada orang yang tidak sepakat bahwa buku mampu mengubah manusia hingga 180 derajat. Bagi saya, buku jauh lebih mengerikan daripada pisau ataupun pistol. Pisau bisa mengantar satu nyawa untuk ‘pulang’, sedangkan buku mampu mengantar ribuan kepala (dan anak-anaknya) menuju kesesatan.

Soal kesesatan, saya pernah menemukan kasus yang cukup menarik di novel berjudul Arkhytirema. Di sana disebutkan kalau nabi Adam ternyata masih hidup dan menjadi pengembara galaksi. Kedua anaknya, Qabil dan Habil juga demikian. Kemudian dituliskan juga kalau para nabi merupakan orang-orang yang memiliki tenaga dalam, bahkan nabi Muhammad SAW disebut-sebut sebagai orang yang menguasai teknologi canggih serta bisa melompat ke dimensi-dimensi lain untuk berdakwah. Kasarnya Rasulullah SAW dikatakan sebagai nabi untuk semesta alam (dalam artian ke planet lain juga), sedangkan di nash-nash yang kita terima sampai hari ini, belum pernah ada pernyataan demikian secara tertulis baik di dalam Al-Qur’an maupun dari lisan Rasulullah yang diwariskan oleh para ulama hingga hari ini. Uniknya lagi, banyak pembaca dari novel ini memercayai apa yang diuliskan merupakan sebuah kenyataan, bahkan diantara mereka ada yang merasa tengah mengemban misi untuk melakukan ‘restorasi’ terhadap sejarah para nabi agar lebih ‘otentik’ menurut pandangan mereka. Ajaib!

Namun kali ini saya seakan tengah dipaksa untuk menepis jauh-jauh anggapan-anggapan tersebut. Awalnya mungkin saya satu diantara mereka yang skeptis terhadap buku-buku sejenis ini, namun untuk buku pertama dari tetralogi novel Muhammad SAW, mau tak mau saya harus memberikan standing aplause atas keberhasilannya menggabungkan sejarah dan fiksi menjadi satu kesatuan yang menarik dan bergizi untuk dibaca. Hebatnya lagi, Tasaro GK seakan telah melakukan riset sedemikian rupa sehingga apa yang ia tulis memang bukan gubahan semata. Terlihat dari deretan daftar pustaka yang ditulis rapi di bibliografi yang terletak di halaman-halaman paling akhir novel ini.

Di dalam novel ini, Tasaro GK telah berhasil menjadikan sejarah dan isu ‘semua agama berasal dari sumber yang sama’ menjadi kekuatannya, dan menyampaikannya secara proporsional melalui diskusi-diskusi antar tokoh di dalamnya. Tak jarang juga Tasaro mengutip ayat-ayat yang termaktub dalam kitab-kitab berbagai agama di seluruh dunia, seperti kitab Avesta, kitab Veda, maupun kitab-kitab lainnya. Meskipun demikian, Tasaro tidak serta merta menjadikan dirinya sebagai orang liberal melainkan Tasaro mampu memosisikan dirinya sebagai seorang penulis muslim yang taat.

Pada umumnya, seorang penulis akan menggunakan sudut pandang orang ketiga atau orang pertama dalam karya-karyanya. Entah sebagai pemantau yang menyebut tokoh-tokohnya dengan kata ‘dia’, ataupun dengan menggunakan kata ganti ‘aku’ yang menunjukkan bahwa dia adalah si tokoh itu sendiri. Yang menjadi titik perhatian saya dari novel ini adalah tata aturan bagi seorang muslim untuk memosisikan Nabi-nya di atas manusia yang lain, dan itulah yang dilakukan oleh Tasaro. Dalam penuturannya mengenai sosok maupun kisah hidup sang Nabi, Tasaro menggunakan sudut pandang orang kedua dengan kata ganti ‘engkau’, seakan-akan Tasaro memosisikan diri sebagai orang yang tengah membaca kisah-kisah Rasulullah dari sebuah buku, kemudian menuangkan seluruh perasaannya dalam cerita. Namun jangan khawatir, pembaca tidak akan merasa seakan-akan tengah membaca curhatan seorang Tasaro, akan tetapi kesan yang muncul justru seakan pembaca tengah ‘meminjam’ mata dan pikiran milik Tasaro untuk mengintip keseharian Rasulullah dari apa yang ia baca! Satu hal yang ajaib tentu, apalagi ketika kedua bola mata kita menjadi sembab tanpa sadar.

Di sisi lain, Tasaro menciptakan seorang tokoh fiktif bernama Kashva dengan berbagai macam lika liku hidupnya, dan tentu menggunakan sudut pandang orang ketiga seperti para penulis pada umumnya. Kisah original milik Tasaro.

Bagi sebagian orang, tentu dua kisah di atas tidak bisa disepadankan, termasuk bagi saya sendiri. Kisah tentang Rasulullah tentu tak bisa disandingkan dengan satu kisah fiktif dalam sebuah buku. Andai saya bisa memilih, maka saya akan lebih memilih untuk membaca kisah Rasul-nya saja daripada membaca kisah tokoh fiktif bernama Kashva. Namun lagi-lagi, Tasaro memaksa saya untuk itu! Mau tak mau saya harus membaca kisah Kashva dari awal sampai akhir, termasuk kisah cinta dan perjalanannya. Meskipun demikian, paksaan tersebut saya terima secara sukarela, karena melalui itu semua, saya seakan diajak ke dalam diskusi-diskusi berkualitas tentang seluruh agama di dunia. Mengenal sosok astvat-ereta, buddha maitreya, mesias, sang penggenggam hujan, juga nama-nama lain yang diramalkan dalam berbagai kitab peninggalan para pendiri agama di seluruh dunia. Salah satunya kitab Avesta, kitab milik agama Zaratushtra (Zoroaster) peninggalan nabi Zardhust di Persia (sekarang Iran).

Selain itu, Tasaro telah berhasil membentuk kepribadian para tokoh secara sempurna, mengombinasikan antara kelebihan dengan kekurangan yang menjadikan para tokoh ini sebagai manusia biasa. Meskipun demikian, novel Tasaro ini tidak serta-merta mampu terlepas dari fenomena yang sempat saya tuliskan di awal: dianggap sebagai sebuah kenyataan. Bisa jadi Kashva atau Astu atau Mashya atau Vakhsur dianggap sebagai tokoh nyata yang mencari kebenaran tentang sosok Atsvat-Ereta yang dijanjikan oleh nabi mereka, Zardhust, kemudian tanpa sengaja kita menyebut nama-nama mereka di dalam doa setelah shalat karena dianggap tokoh-tokoh ini telah tersentuh hidayah meski belum sampai pada muara yang dituju. Novel ini bagi saya memang menjadi sebuah santapan yang sangat bergizi. Akan tetapi sebergizi apapun makanan tentu akan bermasalah jika dikonsumsi secara serampangan. Kekritisan diperlukan saat membaca novel ini, kemudian penggunaan buku-buku tentang sejarah nabi juga diperlukan sebagai pendamping ketika membaca buku ini. Setidaknya andaikata ditemukan hal-hal yang terasa tidak sesuai dengan apa yang pernah kita pahami tentang sejarah nabi, kita dapat langsung mengklarifikasi hal-hal tersebut dari rujukan aslinya.

Terlepas dari itu semua, pembaca akan disuguhi pengalaman pengembaraan tanpa batas untuk mencari kebenaran di dalam novel ini. Lalu pada akhirnya, pembaca akan dihadapkan pada sebuah fakta menarik yang tentu tak akan saya tuliskan di sini. Silakan sesap novel itu secara langsung, nikmati alurnya dan temukan sesuatu yang amat sangat menarik di dalamnya!

Bogor, 03 April 2017

Andi

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s