Dimana Para Patriot?

#Catatan_Aktivis

Tahun 1905, Jamiatul Khair didirikan. Sebuah lembaga pendidikan yang mengusung ideologi Islam sebagai landasan. Tiga tahun setelahnya, Budi Utomo didirikan dengan tujuan sebagai tandingan dari JK, demi mengekalkan keyakinan yg orang2 BU sebut sebagai Agama Djawa.

Pada tahun yang sama dgn JK, tepatnya tanggal 16 Oktober 1905, Sjarikat Dagang Islam pimpinan H. Samanhoedi didirikan dengan satu cita2: menanamkan rasa Nasionalisme dalam diri bangsa melalui pasar.

Pada tahun 1916, SDI melaksanakan Congress dengan nama National Congress Centraal Sjarikat Islam Pertama – 1e Natico, dan sejarah mencatatkan bahwa SDI adalah organisasi pertama yg jelas2 menyebut kata Nasionalisme di Indonesia.
Jauh sebelum PNI berdiri (1928), dan di masa yang sama Budi Utomo menolak ide Nasionalisme sampai tahun 1928 ketika BU melaksanakan kongress di solo.

Maka tak heran jika seorang tokoh dari Indische Partij pernah mengataka:

‘Jika tidak karena sikap dan semangat perjuangan para Ulama, sudah lama patriotisme di kalangan bangsa kita mengalami kemusnahan.’ (E.F.E. Douwes Dekker Danudirjo Setiabudi)

Klaim?

Tentu bukan. Islam pernah jaya di negeri ini. Jika kita membandingkan dengan Syam, atau Palestina, maka kita pernah ada di posisi mereka.
Tahun 1877-1878, Rusia menyerang Turki atas provokasi Inggris. Saat itu Rusia masih di bawah kendali Kristen, jauh sebelum terjadinya Revolusi.
Tujuannya apa?
Tahun 1873-1914, Kesulthanan Aceh tengah diserang oleh Kerajaan Protestan Belanda. Dengan terjadinya peperangan antara Turki Utsmani-Rusia, maka Turki tidak bisa memberikan bantuan pada Aceh. Terlebih lagi Inggris berhasil memprovokasi Mesir untuk lakukan kudeta.

Maka kita dengan bangga bisa berkata bahwa Negeri ini juga adalah negeri para syuhada. Di tanah kita berdiri hari ini pernah tertumpah darah para pendahulu kita. Dan di sini, hari ini, tersimpan semangat juang para Ulama.

Lalu bagaimana kondisi kita hari ini?

Jika kita membuka kembali fakta2 sejarah, maka kita akan menemukan para Ulama ini adalah org2 yang ikhlas dn memahami Islam secara mendalam. Bahkan kesulthanan2 di Indonesia selalu mengirimkan orang2 terbaik mereka ke Haramain untuk belajar.

Lalu apa itu ikhlas? Mutiara yang hampir hilang dari dada kita?

Terkait ini, seorang ulama pernah berkata, “Ikhlas ialah ketika perkataan, perbuatan, dan seluruh apa yang kita lakukan hanya untuk Allah dan berharap keridhaan-Nya, tanpa menyandingkan Allah dengan apapun (termasuk materi, prestise, jabatan, gelar, dll – pen)”

Dan pada akhirnya, dari keikhlasan dan pemahaman yang benar, para Ulama ini berhasil melahirkan Amal yang mengundang pertolongan Allah atas mereka.
Ingat Kesulthanan Atjeh?
Demak?
Perjuangan Diponegoro?
Imam Bonjol?
Ternate, Tidore, dan kerajaan2 di Maluku yang sejatinya tidak berpecah belah?
Sisingamangaraja XII?
Mereka meski tanpa mesiu, ternyata mampu mendesak meriam dan senapan untuk mundur bahkan hampir menyerah sampai2 mengajukan gencatan senjata dan perjanjian damai?
الله اكبر!

Maka sejatinya jalan dakwah yang kita tempuh hari ini adalah untaian panjang dari sejarah masa lalu.

Lalu, masih adakah para Patriot itu hari ini?

Sabtu, 16 April 2016
Allahu a’lam,

Andi Fikri

Andi Fikri

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s