Langkah

“Masih sering duduk di sini?” tanyanya mengejutkanku lalu mengambil tempat duduk di sampingku. Seorang laki-laki dengan syal abu dan jaket tebal. Kacamata berframe hitam masih setia bertengger di hidungnya. Aku ingat ketika ia menceritakan tentang kisah kacamata itu dan mengapa ia tak pernah sekalipun lepas dari wajahnya. Aku tak bisa melihat, makanya lebih baik seperti ini, toh lebih keren. Katanya.

“Begitulah. Ngapain ke sini?” tanyaku.

“Jalan-jalan. Bosan dengan suasana kuliah, mumpung masih di sini kan,” katanya sambil membuka chiki merk Doritos di tangannya. Tulisan Çok Acılı tertulis di kemasan, meski bagiku cemilan ini tak ada pedas-pedasnya sama sekali. “Mau?” tanyanya.

“Oh tentu, makasih.” Kataku sambil mengambil isinya sebanyak mungkin.

“Hey! Banyak amat!” protesnya.

“Salah sendiri nawarin.” Kataku tanpa rasa bersalah, lalu kami berdua tertawa.

“Gak lama lagi ya?”

Aku mengangguk. Sebentar lagi giliranku meninggalkan kota ini. Kota megah dengan benteng-benteng tinggi yang menjulang, bangunan-bangunan kuno yang masih terawat, juga menara-menara masjid yang seakan tak bosan mengumandangkan suara adzan setiap waktu. Aku baru sadar, aku sudah jatuh cinta pada kota ini. Kota yang menjadi perbatasan dua benua: Asia dan Eropa.

Aku menghela napas. “Yap,” kataku singkat.

“Berat?”

“Sangat.”

“Lalu apa yang akan kau lakukan setelah pulang, Fik?”

Aku tak terlalu terkejut dengan pertanyaan ini. Bagiku yang belum menyempurnakan langkah di tempat ini, tentu berat. Sama seperti pertanyaan, ‘Kapan lulus?’ yang sering didapatkan oleh mahasiswa-mahasiswa Indonesia di tingkat akhir. Aku hanya bisa tersenyum kecut kali ini.

“Kuliah lagi, sepertinya.”

“Di mana?”

“Entah. ITB mungkin, atau UGM.”

“SNMPTN tulis berarti?”

“Mau gak mau, Di. Kali ini aku akan mencuri jatah satu kursi dari angkatan ini, hehe. Tantangannya berat bagiku sekarang, seenggaknya kondisi pendidikan di Indonesia kan sudah mulai meningkat jika dibanding angkatan kita. Ya kan?”

Laki-laki itu tersenyum. “Tapi aku sendiri yakin kau pasti tembus di sana. Niatmu sudah bulat kan?”

“Sebulat matahari, cukup?” balasku. Laki-laki itu tersenyum lagi. “Yang paling berat bagiku bukan soal mengulang, Di. Tapi meninggalkan apa yang sudah terbangun. Itu yang paling sulit. Meski nyatanya, bagiku tak ada yang namanya ‘melangkah mundur’. Semuanya maju. Kepulanganku juga sebetulnya menjadi langkahku ke depan, bukan ke belakang seperti yang orang-orang pikirkan. Tapi, bagaimana ya?”

“Hmmm,” gumamnya. Ia seakan menunggu alasan dari munculnya pertanyaanku barusan.

“Aku belum siap menghadapi ekspektasi orang-orang di sana. Aku pasti dianggap gagal, bung.”

“Fitrah manusia itu, mungkin. Terlalu senang mencampuri hidup orang lain dan melupakan hidupnya sendiri. Jawabannya simpel kan, tinggal kau buktikan saja pada mereka. Selesai urusan. Hidupmu milikmu, kebahagiaan itu hakmu. Dan kebebasan, itu kau yang tentukan sendiri. Jangan setengah-setengah,” katanya.

Aku tertawa. Bagiku, kata-kata lelaki ini selalu menyenangkan. Tapi jika aku boleh memilih kata lain selain menyenangkan, mungkin kata ‘menenangkan’ jauh lebih tepat. Satu tingkat lebih tinggi daripada menyenangkan.

Seekor camar terbang melintas tak jauh di atas kepala kami. Sebentar lagi, aku akan seperti mereka. Terbang meninggalkan kota ini. Istanbul.
Aku harus siapkan pesan kepulangan.

JEJAK
02 Februari 2016
Andi Fikri

Andi Fikri

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s