INFERNO: kerumitan simbol yang diringkas oleh Dan Brown

O you possessed of sturdy intellect
observe the teaching that is hidden here …
beneath the veil of verses so obsecure.


Kembali menceritakan tentang petualangan profesor Langdon menguak misteri tersembunyi dari simbol-simbol yang tersebar di sekelilingnya, kali ini Dan Brown sekali lagi berhasil membuat saya takjub dengan karya-karyanya. Dalam Inferno ini, Dan Brown mengajak kita, para pembaca setianya –mungkin–, untuk berlarian di lorong-lorong sempit dan museum-museum bersejarah di Italia, Venesia, dan terakhir Istanbul. Diawali dengan kalimat, ‘semua karya seni, kesusastraan, dan referensi sejarah dalam novel ini nyata’, Dan Brown seakan ingin meyakinkan para pembacanya bahwa referensi dari novel ini bukan daimbil secara serampangan, akan tetapi berawal dari riset panjang dan referensi yang mampu membuka wawasan pembaca lebih luas lagi. Sehingga, menurut saya, novel-novel karyanya (termasuk INFERNO) bukan hanya sekedar novel ‘pengantar tidur’, akan tetapi bisa dijadikan salah satu referensi bergizi ketika ingin jalan-jalan ke Italia, Venesia, dan mungkin Istanbul. Mengapa Istanbul dikatakan ‘mungkin’? Ya karena, kurang lebih, yang digambarkan di Istanbul hanya sebagian kecil dari jejak-jejak sejarah yang ada di sana. 🙂

Sesuai judulnya, INFERNO, diambil dari puisi ‘spiritual’ yang ditulis oleh seorang sastrawan besar di zamannya, Dante Alghieri. Menggambarkan tentang perjalanannya menuruni lembah neraka dengan delapan tingkatan, kemudian berlanjut ke Purgatorio dimana Dante melakukan perjalanan mendaki untuk melakukan penebusan dosa, dan terakhir Paradiso yang menggambarkan kenikmatan hakiki setelah melewati fase penebusan. Dalam novel ini, selain Map of Inferno yang digunakan sebagai petunjuk dalam memecahkan kasus yang dihadapi Langdon, Dan Brown tak lupa mencoba untuk mengedukasi pembaca mengenai perjalanan yang dilalui oleh Dante (tentunya di dunia nyata) melalui alur cerita dan tempat-tempat bersejarah yang dilalui oleh Langdon, tentunya secara rapi dan menarik. Selain itu, Dan Brown mengungkapkan sebuah fakta menarik yang entah disengaja atau tidak, tentang penggunaan puisi Inferno sebagai referensi utama untuk menggambarkan kondisi neraka dan jalan penebusan dalam salah satu agama besar di dunia. Penasaran? Silakan baca sendiri. 🙂

Secara garis besar, INFERNO ini sangat layak untuk dinikmati dan masuk dalam daftar buku ‘rekomendasi’ ala saya. Dimulai dari cover yang berisikan secuil potret Italia, wajah Dante Alghieri dengan topi merah khas miliknya, serta beberapa tulisan seperti invidia, gala, dan lain sebagainya. Cukup menggambarkan betapa kompleksnya misteri di dalam buku ini.

Kemudian dari segi bahasa, Dan Brown mampu menjelaskan detil-detil dari setiap simbol (yang sebetulnya rumit) dengan bahasa yang lugas, sederhana, dan mudah dimengerti. Dari aspek alur yang digunakan, INFERNO terlihat seakan tanpa cela. Dimulai dari cerita yang terlihat mengalir dengan rapi, dipadu dengan karakter setiap tokoh yang tersampaikan dengan baik, dan yang paling menarik, motif dari tindakan setiap tokoh mampu disembunyikan dengan sangat rapi oleh penulis, sehingga setiap halamannya terasa begitu segar untuk diteguk. Apalagi ketika motif-motif tersebut mulai dibuka satu persatu, pembaca akan dihadapkan pada banyak pilihan seperti ‘menerima begitu saja’ atau ‘kembali membongkar ratusan halaman dibelakang untuk melihat petunjuk kecil dalam cerita yang terlewat atau untuk melacak siapa penjahat sebenarnya’, dan itu cukup menyebalkan (karena saya termasuk golongan yang kedua, membuka ulang ratusan halaman demi meyakinkan kalau deduksi sederhana saya tidak salah, meski akhirnya Dan Brown-lah yang benar). Tapi di sisi lain, seperti kehidupan, saat segalanya mulai terbuka, kita tidak memiliki ruang untuk kembali menilik masa lalu, apalagi mengulanginya. Kalaupun iya, apa yang kita alami dan kenang terkadang malah menjadi ‘pengganjal’ dari kehidupan kita di masa depan. Sesuai namanya, kenangan hanya berhak untuk dikenang, dan kehidupan harus tetap berjalan.

Terakhir, dari sekian panjang perjalanan di dalam Inferno ini, saya mulai menyesali satu hal: tidak pernah masuk ke Yerebatan Sarayi, sebuah tempat penampungan air di Istanbul untuk memenuhi kebutuhan air masyarakat beberapa abad yang lalu, dan baru menyadari satu hal: Aya Sofia punya ruang bawah tanah! Selama membaca ini saya banyak berpikir ulang, mulai mengingat-ingat dimana pintu masuk ke ruang bawah tanahnya, atau apa benar di setiap sudut lantai aya sofia terdengar suara air mengalir? Satu hal yang amat menyebalkan, terlebih sudah lima kali saya mengunjungi tempat bersejarah itu namun melewatkan detil semacam ini.

Ah sudahlah, mungkin ini pertanda yang artinya suatu saat nanti, saya harus kembali mengunjungi Sultanahmet Meydani sekali lagi, menikmati percikan air dari fountain di tengahnya, kemudian kembali bermunajat di lantai biru masjid Sultanahmet sepuasnya.

Cianjur, 29 Januari 2017

Judul Buku           : INFERNO

Penulis                 : Dan Brown

Tebal                    : 644 Halaman

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s